Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan di Bursa Efek Indonesia pada Kamis (21/5/2026) akibat reaksi para pelaku pasar terhadap persetujuan aturan baru ekspor komoditas oleh DPR dan kebijakan moneter Bank Indonesia.
Pelemahan indeks domestik tersebut terjadi selaras dengan tren negatif yang melanda bursa saham di kawasan Asia lainnya, sebagaimana dilansir dari Investasi.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menjelaskan bahwa sentimen negatif dipicu oleh sidang pleno DPR yang menetapkan Peraturan Pemerintah terkait tata kelola ekspor komoditas, di mana aktivitas ekspor kini diwajibkan melalui BUMN yang ditunjuk.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 26 Mei yang memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen demi menjaga inflasi serta memperkuat nilai tukar rupiah yang ditutup menguat ke posisi Rp17.654 per dolar AS.
“Kami memperkirakan IHSG akan bergerak dalam kisaran harga 6.184-6.388,” ujar Herditya dalam risetnya pada Kamis (21/5/2026).
Untuk perdagangan hari ini, Herditya memberikan rekomendasi saham berupa Buy on Weakness untuk AADI, HRTA, dan MBMA, serta Trading Buy untuk saham AMRT.
Di sisi lain, Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman mencatat aksi jual bersih oleh investor asing pada hari sebelumnya menyasar saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, TPIA, AMMN, dan DSSA.
Fanny memproyeksikan pergerakan indeks hari ini akan berada pada rentang support 6.000-6.200 dan resistance di level 6.400-6.450 dengan saran sell on high mengingat potensi kelanjutan koreksi masih ada.
Sebagai panduan investasi, Fanny merekomendasikan Speculative Buy untuk BBCA dengan area beli di 5.950, UNTR di area 24.850, PADI di area 90-94, dan WIFI di kisaran 1.985-2.000, serta strategi Buy on Weakness untuk saham BREN dan BDMN.