Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pelemahan pada penutupan perdagangan Senin (11/5/2026). Penurunan ini terjadi tepat sehari sebelum pengumuman rebalancing indeks global oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Dilansir dari Money, MSCI dijadwalkan melakukan evaluasi indeks global pada Selasa (12/5/2026). Dalam proses tersebut, MSCI akan menerapkan perlakuan khusus bagi saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG terkoreksi 63,775 poin atau turun sebesar 0,92 persen. Sepanjang hari, pergerakan indeks terpantau sangat fluktuatif di tengah tekanan jual yang masif.
Indeks sempat menguat hingga menyentuh level tertinggi harian di posisi 7.001,679. Namun, aksi jual memaksa indeks turun ke titik terendah 6.846,632 sebelum akhirnya menetap di bawah area psikologis 6.910.
Aktivitas perdagangan mencatatkan total volume sebanyak 41,471 miliar saham. Nilai transaksi secara keseluruhan mencapai Rp 20,534 triliun dengan frekuensi perdagangan yang menembus 2,82 juta kali transaksi.
Kondisi pasar menunjukkan dominasi sentimen negatif dengan 442 saham melemah, sementara hanya 251 saham yang menguat. Sisanya, sebanyak 125 saham tercatat stagnan pada penutupan perdagangan awal pekan ini.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Patria Sjahrir, berpendapat bahwa koreksi IHSG tidak hanya disebabkan oleh sentimen rebalancing MSCI. Ia menyoroti faktor nilai tukar rupiah dan aspek teknikal lainnya sebagai pemicu utama.
"Saya rasa bukan menyangkut soal MSCI kok hari ini. Lebih banyak soal rupiah dan segala macam," ujar Pandu di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Senin.
Nilai tukar rupiah di pasar spot memang terpantau terdepresiasi cukup dalam. Mata uang Garuda melemah 32 poin atau 18 persen ke level Rp 17.414 per dollar Amerika Serikat (AS).
Kondisi serupa terjadi pada kurs referensi Jisdor yang turun Rp 40 atau 0,23 persen ke posisi Rp 17.415 per dollar AS. Pelemahan mata uang domestik ini menjadi beban tambahan bagi pergerakan indeks saham.
Hendra Wardana selaku pengamat pasar modal dan Founder Republik Investor menjelaskan bahwa tekanan IHSG berasal dari kombinasi faktor global dan domestik yang berat. Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik AS dan Iran kembali memanas.
Penolakan Presiden Donald Trump terhadap proposal damai Iran telah memicu lonjakan harga minyak mentah. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap inflasi global yang berpotensi bertahan tinggi dalam waktu lama.
"Kenaikan harga minyak tersebut juga membuat investor cenderung melakukan profit taking di saham-saham energi setelah sebelumnya sempat rally cukup tinggi," ujar Hendra.
Di dalam negeri, pelaku pasar cenderung bersikap defensif akibat nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp 17.400. Selain itu, polemik kebijakan tarif royalti mineral dan penantian hasil review MSCI menambah ketidakpastian.
Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BMRI, BBCA, dan BBRI menjadi beban utama indeks. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) dengan nilai mencapai Rp 659 miliar.
Sektor energi tercatat sebagai sektor dengan koreksi terdalam akibat pelemahan saham ADRO dan ITMG. Meski demikian, sektor infrastruktur mampu menguat 1,52 persen sebagai indikasi adanya rotasi dana ke saham defensif.
Beberapa saham komoditas logam seperti ANTM, TINS, dan MDKA terpantau tetap berada di zona hijau. Hal ini didorong oleh harga nikel dan tembaga dunia yang masih menguat, menarik minat investor yang selektif.