IHSG Berisiko Menguji Level 6.696 akibat Tekanan Geopolitik Selat Hormuz

IHSG Berisiko Menguji Level 6.696 akibat Tekanan Geopolitik Selat Hormuz

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan terus mengalami tekanan pada pekan ini meskipun sempat menguat 0,22 persen ke level 6.971 pada perdagangan Senin (4/5/2026). Pergerakan pasar modal saat ini dibayangi oleh sentimen negatif eksternal yang memicu kondisi risk-off bagi para pelaku pasar.

Kondisi ini terjadi setelah indeks komposit terpangkas sebesar 2,52 persen pada pekan sebelumnya. Penurunan tersebut dibarengi dengan aksi jual bersih investor asing senilai Rp5,8 triliun di pasar reguler sebagaimana dilansir dari Market.

David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), mengungkapkan bahwa pergerakan indeks pekan ini sangat dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di wilayah Selat Hormuz. Situasi tersebut berdampak langsung pada bertahannya harga minyak dunia di level tinggi.

"Kondisi Selat Hormuz secara fundamental memberikan tekanan besar berupa kenaikan biaya produksi bagi negara-negara net importir energi, yang pada gilirannya dapat memicu risiko inflasi serta menggerus daya beli masyarakat secara luas," terang David dalam riset mingguan yang dikutip pada Senin (4/5/2026).

Analisis pasar menunjukkan bahwa lonjakan harga energi memberikan risiko penurunan yang cukup besar bagi sektor transportasi dan konsumsi. Namun, komoditas seperti nikel dan crude palm oil (CPO) dinilai lebih tahan banting karena keterbatasan suplai global dan pengaruh regulasi di dalam negeri.

Secara teknikal, pergerakan IHSG saat ini berada dalam fase penurunan jangka menengah. Indeks diperkirakan akan menguji area batas bawah atau support pada rentang 6.918 hingga 6.696.

"Investor disarankan untuk benar-benar bersikap lebih defensif dengan fokus pada emiten berbasis komoditas seperti nikel dan CPO yang memiliki ketahanan fundamental lebih kuat, dibandingkan dengan sektor konsumsi atau transportasi yang rentan terhadap lonjakan biaya operasional," ujar David.

Berdasarkan analisis tersebut, sektor komoditas dan CPO dipandang memiliki prospek yang lebih cerah di tengah volatilitas pasar. Emiten yang menjadi perhatian khusus di antaranya adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP).

Strategi Trading Saham Pekan Ini
EmitenStrategiHarga Masuk (Rp)Target Harga (Rp)Stop Loss (Rp)
AADIBeli11.60012.20011.300
LSIPBuy on pullback1.680 - 1.7001.8001.620

Artikel terkait

Rekomendasi