Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan hingga ditutup pada level 6.905,62 pada Senin (11/5/2026) akibat tekanan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Penurunan ini terjadi di tengah penantian pasar terhadap pengumuman rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026.
Data perdagangan menunjukkan IHSG merosot 63,78 poin atau 0,92 persen pada penutupan hari ini, setelah sebelumnya sempat dibuka melemah ke posisi 6.920,118 di sesi pagi. Sektor pertambangan menjadi salah satu pemberat indeks seiring adanya sentimen kebijakan royalti, sebagaimana dilansir dari Suara.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, memberikan penjelasan mengenai dinamika pasar yang terjadi saat ini. Menurutnya, koreksi indeks tidak semata-mata disebabkan oleh faktor internal bursa, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh fluktuasi mata uang.
"Saya rasa bukan menyangkut soal MSCI (Morgan Stanley Capital International) saja, (pergerakan IHSG) hari ini, lebih banyak faktor rupiah dan lain-lain," kata Pandu Sjahrir, CIO Danantara.
Pandu tetap menyatakan optimisme terhadap kondisi pasar modal dalam negeri. Ia menilai berbagai langkah pembenahan yang dilakukan oleh otoritas bursa sudah berada di jalur yang tepat untuk menjaga stabilitas jangka panjang.
"Ya kita tunggu saja besok. Seharusnya semua (syarat dan catatan MSCI) sudah dimasukkan juga. Saya sudah lihat perkembangannya, bursa bagus kok dari sisi penerapan yang sedang dilakukan," ungkap Pandu Sjahrir, CIO Danantara.
Pihak Danantara kini menantikan hasil evaluasi MSCI dengan harapan dapat memberikan dorongan positif bagi arus modal yang masuk ke Indonesia. Kepastian indeks tersebut dinilai krusial bagi kepercayaan investor global.
"Insyaallah besok (hasil pengumuman) baik," ujar Pandu Sjahrir, CIO Danantara.
Kondisi pasar saham ini berbanding lurus dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang ditutup pada level Rp17.414 per dolar AS. Mata uang Garuda tercatat turun 0,18 persen dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp17.382 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Iran dilaporkan menolak proposal perdamaian Amerika Serikat terkait konflik dengan Israel. Faktor eksternal ini memicu penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang global termasuk rupiah.