Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan sepanjang sesi perdagangan pada Senin (18/5/2026). Berdasarkan data RTI Business yang dikutip dari Detik Finance, indeks saham domestik tersebut anjlok sebesar 1,85 persen hingga menyentuh level 6.599,24.
Kondisi ini dipengaruhi oleh pengumuman hasil rebalancing indeks MSCI serta rencana FTSE Russell untuk mengeluarkan saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC). Namun, sentimen dari penyedia indeks global tersebut bukan menjadi penyebab tunggal.
Koreksi yang dialami IHSG bergerak selaras dengan tren penurunan yang melanda sejumlah bursa utama di kawasan Asia. Indeks Nikkei 225 (N225) di Jepang terpantau melemah 0,97 persen ke posisi 60.815,89.
Pelemahan juga terjadi pada Hang Seng Index (HSI) di China yang merosot 1,11 persen menuju level 25.675,17. Sementara itu, Shanghai Composite Index (SSEC) ikut terkoreksi tipis sebesar 0,09 persen ke level 4.131,52. Di sisi lain, Straits Times Index (STI) Singapura justru menguat 0,15 persen ke level 4.996,75.
"Tidak hanya MSCI dan FTSE saja yang mempengaruhi IHSG hari ini, namun dari sisi pasar global dan regional Asia juga turut menekan pergerakan indeks," ungkap Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, kepada detikcom Senin (18/5/2026).
Faktor eksternal lain yang turut menekan pergerakan pasar modal adalah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik tersebut berimbas pada lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini bertengger di atas US$ 100 per barel.
Dari dalam negeri, performa IHSG kian terbebani oleh pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang berada di posisi Rp 17.676. Berbagai sentimen negatif ini memicu peningkatan kecemasan di kalangan pelaku pasar.
"Hal ini juga kembali meningkatkan kekhawatiran investor akan tekanan inflasi ke depannya serta perlambatan ekonomi global," pungkasnya.
Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, menjelaskan bursa saham Asia mengalami koreksi besar pada perdagangan dua hari tersebut. Tekanan bursa Asia ini kemudian terakumulasi pada IHSG di perdagangan hari ini.
"Kalau kita cermati memang ketidakpastian di pasar kita masih cukup tinggi, tetapi kita juga melihat bahwa hari Kamis dan Jumat pasar kita libur. Nah, di masa kita libur itu, pasar global khususnya pasar Asia, itu juga mengalami koreksi," ungkap Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Senin (18/5/2026).
Menurut penjelasan Jeffrey, penurunan IHSG saat ini dipicu oleh sentimen global, namun pergerakannya dinilai masih sejalan dengan kondisi regional Asia. Ia juga mengimbau para pemodal agar tetap tenang dalam menghadapi gejolak pasar ini.
Jeffrey mengingatkan pentingnya melakukan analisis mendalam serta mempertimbangkan aspek fundamental perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi di tengah situasi pasar yang penuh ketidakpastian.
"Ditambah dengan sedikit koreksi tambahan hari ini di pasar global, itu sama dengan koreksi yang kita alami hari ini. Jadi, saya rasa masih inline dengan global market, tetapi memang ketidakpastian di pasar kita itu masih cukup tinggi," jelasnya.
Strategi Investor Mengatur Ulang Portofolio
Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, mengamati bahwa para pelaku pasar saat ini sedang sibuk melakukan penyesuaian ulang terhadap portofolio investasi mereka. Langkah penataan kembali ini merespons pengumuman berkala dari MSCI dan FTSE Russell.
"Pasar menilai kebijakan ini berpotensi memicu penyesuaian portofolio lanjutan dari investor asing maupun passive funds, terutama pada saham-saham dengan free float terbatas dan likuiditas yang kurang ideal," ujar Reydi kepada detikcom.
Menurut pandangan Reydi, penataan strategi investasi ini tidak akan dilakukan secara terburu-buru oleh para pemodal. Proses rebalancing atau penyeimbangan portofolio di pasar modal Indonesia diproyeksikan bakal berjalan dalam beberapa pekan mendatang.
"Umumnya proses rebalancing dilakukan bertahap dalam beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung profil risiko, tujuan investasi dan likuiditas di pasar," pungkasnya.