Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah ke level 7.100-an pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026 pagi, di tengah koreksi bursa global menjelang akhir pekan. Dilansir dari Detik Finance melalui data RTI pukul 09.10 WIB, indeks tercatat turun 0,37 persen atau terkoreksi 26,46 poin ke posisi 7.147,86.
Data perdagangan menunjukkan IHSG memulai hari pada level 7.182,96 dengan rentang pergerakan antara 7.139,11 hingga 7.186,83. Volume transaksi mencapai 5,09 miliar saham dengan nilai turnover Rp 1,80 triliun, di mana sebanyak 367 saham terpantau melemah sementara 180 saham menguat dan 160 saham lainnya tidak bergerak.
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, memproyeksikan pergerakan indeks hari ini akan bervariasi pada rentang 7.100 hingga 7.200. Ia mencatat adanya aturan baru dari Bursa Efek Indonesia terkait batasan minimal saham publik bagi emiten di berbagai papan pencatatan.
"BEI menerbitkan aturan baru (8/5/2026) bahwa emiten di Papan Utama dan Pengembangan wajib memiliki free float minimal 15% dan minimal 50 juta saham beredar di publik, sementara Papan Akselerasi minimal 7,5%. Seluruh emiten wajib memiliki minimal 300 SID," tulis Ratih Mustikoningsih, Financial Expert Ajaib Sekuritas.
Selain regulasi domestik, pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh kondisi komoditas energi dunia. Ratih menyoroti adanya pemulihan harga minyak mentah Brent yang terjadi setelah mengalami tren penurunan dalam beberapa hari terakhir.
"Harga minyak Brent rebound +2,65% US$ 102/barel secara intraday (8/5/2026) setelah koreksi dalam 3 hari beruntun dengan akumulasi penurunan -13%. Bursa Asia Pasifik hari ini dibuka melemah terbatas mengikuti Wall Street, indeks KOSPI -0,45% dan Nikkei 225 -0,23% (8/5/2026)," lanjut Ratih Mustikoningsih.
Kondisi di bursa Asia lainnya juga terpantau seirama dengan pelemahan IHSG, di mana indeks Nikkei turun 0,63 persen dan Hang Seng merosot 1,21 persen. Pelemahan ini mengikuti jejak Wall Street yang mengalami koreksi akibat aksi ambil untung oleh investor yang menanti rilis data tenaga kerja Amerika Serikat serta ketegangan geopolitik di Selat Hormuz.