Pasar modal Indonesia mengalami tekanan jual signifikan yang dipicu oleh ketidakpastian kebijakan pemerintah serta sentimen negatif domestik pada Jumat (5/6/2026). Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilansir dari Investasi kini berpotensi terus teroreksi hingga menguji level baru pada pekan depan.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menjelaskan bahwa rumor pasar dan ketidakjelasan regulasi direspons negatif oleh para pelaku pasar. Salah satu faktor pemicu kekhawatiran adalah revisi UU P2SK yang dinilai berpotensi mengganggu independensi lembaga keuangan.
"Beberapa ketidakjelasan kebijakan pemerintahan dan rumor pasar direspons negatif oleh pelaku pasar, sehingga kembali mendorong tekanan jual pada pasar modal Indonesia," ujar Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas.
Di sisi lain, isu mengenai kewajiban pembelian Merah Putih Bond oleh warga negara Indonesia telah dibantah oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Sementara dari sektor fiskal, Anggaran Makan Bergizi Gratis dipangkas dan Badan Gizi Nasional memprioritaskan daerah terpencil, di mana realisasi APBN hingga Mei 2026 mencatat defisit Rp 180,4 triliun atau 0,7 persen terhadap PDB.
"Di tengah minimnya katalis positif dan tekanan sentimen negatif, IHSG diperkirakan berpotensi menguji level 5.500 pada pekan depan," jelas Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas.
Tekanan di pasar modal juga diperparah oleh kondisi nilai tukar rupiah yang menembus rekor terburuk di atas Rp 18.000 per dolar AS. Pada Jumat (5/6/2026), mata uang Garuda ditutup pada level Rp 18.036 per dolar AS atau melemah 0,87 persen dalam sepekan, sehingga memicu spekulasi akan adanya Rapat Dewan Gubernur darurat Bank Indonesia pada 17-18 Juni 2026.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mencermati kondisi pasar yang telah mengalami koreksi cukup dalam sepanjang pekan lalu akibat dominasi tekanan jual yang relatif besar.
"IHSG terkoreksi signifikan 8,69% dan masih didominasi oleh tekanan jual yang relatif besar," ujar Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas.
Menurut pemantauannya, penurunan ini dipengaruhi oleh aksi jual investor asing dengan arus keluar dana mencapai Rp 57,63 triliun secara year to date. Herditya menilai menyusutnya kepercayaan investor global terhadap kebijakan domestik ikut memperlemah kondisi pasar.
"Kami perkirakan sentimen negatif yang terjadi pada pekan ini masih akan berlanjut di pekan depan," tambah Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas.
Untuk perdagangan pada Senin (8/6/2026), IHSG diperkirakan masih rawan melanjutkan koreksi dengan rentang support di level 5.517 dan resistance di level 5.734. Beberapa saham yang direkomendasikan untuk dicermati oleh investor dalam situasi ini meliputi ANTM pada kisaran Rp 3.020-Rp 3.200, BRMS di Rp 610-Rp 660, serta MBMA di angka Rp 472-Rp 520.