Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan hingga ditutup merosot 1,70 persen ke level 5.839,78 pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Pergerakan indeks di Bursa Efek Indonesia ini dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian pasar domestik serta peningkatan tensi geopolitik global.
Data dari Bursa Efek Indonesia yang dilansir dari Investasi menunjukkan indeks sempat merosot hingga menyentuh titik terendah di level 5.644 pada perdagangan intraday. Selain melemahnya indeks saham, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga terpantau melemah 0,45 persen ke posisi Rp 18.049.
Kondisi pasar domestik yang fluktuatif ini juga tercermin dari performa sektoral, di mana seluruh indeks sektor membukukan pelemahan. Sektor industrial mencatatkan rapor paling merah dengan penurunan terdalam mencapai 4,07 persen.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menjelaskan bahwa kelanjutan tekanan jual ini dipicu oleh rendahnya kepercayaan dari para pemodal di dalam negeri.
"Tekanan jual berlanjut dari perdagangan sebelumnya akibat maraknya berbagai rumor di pasar domestik di tengah rendahnya kepercayaan investor," ujar Alrich Paskalis Tambolang.
Faktor eksternal turut memperparah keadaan karena mayoritas bursa di Asia ikut bergerak melemah akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mengancam stabilitas ekonomi dunia. Secara teknikal, pergerakan indeks masih menunjukkan sinyal penurunan yang kuat untuk beberapa waktu ke depan.
"Terjadi pelebaran histogram negatif MACD dan Stochastic RSI membentuk death cross di area pivot," jelas Alrich Paskalis Tambolang.
Untuk perdagangan hari Jumat (5/6/2026), pergerakan indeks diproyeksikan masih fluktuatif dengan kecenderungan melemah. IHSG diperkirakan akan menguji rentang area support di kisaran 5.700 hingga 5.800.
Sentimen negatif ini dikonfirmasi oleh analis lain yang menyoroti kekhawatiran terhadap kondisi keuangan di dalam negeri. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai pergerakan pasar dipengaruhi oleh penyesuaian portofolio investor menjelang agenda rebalancing indeks global FTSE Russell yang efektif pada 22 Juni 2026.
"Hal ini dapat memengaruhi pergerakan dana pasif asing yang menyesuaikan portofolionya," ujar Nafan Aji Gusta.
Selain sentimen rebalancing, para pelaku pasar juga bersikap hati-hati dalam mengantisipasi rilis data ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls dari Amerika Serikat. Data tersebut dinilai krusial karena dapat menentukan arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral The Fed ke depan.
"Pergerakan Jumat (5/6/2026) diproyeksikan akan berada pada rentang support 5.733 dan 5.602, sementara area resistance diprediksi berada di level 5.944 dan 6.075."