IHSG Melemah Usai Pembentukan DSI Menkeu Optimistis Valuasi Emiten Naik

IHSG Melemah Usai Pembentukan DSI Menkeu Optimistis Valuasi Emiten Naik

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat hingga tergelincir 2,76 persen ke level 6.144 pada penutupan sesi I hari Kamis (21/5/2026) setelah pemerintah resmi mengumumkan pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai BUMN khusus ekspor.

Pelemahan indeks bursa domestik ini dipicu oleh aksi jual investor, terutama pada saham-saham konglomerasi dan berkapitalisasi besar, akibat ketidakpastian pasar dalam mencermati arah kebijakan reformasi tata kelola ekspor komoditas tersebut.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (20/5/2026), IHSG juga sudah ditutup melemah 0,82 persen ke posisi 6.318,5 setelah dibuka pada level 6.352,20 sehari sebelum pengumuman resmi entitas baru di bawah Danantara Indonesia itu.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai bahwa sikap pelaku pasar yang cenderung melepas saham merupakan respons sementara karena belum memahami dampak jangka panjang dari regulasi anyar tersebut.

"Mungkin mereka belum tahu dampak sebenarnya seperti apa. Kan kalau ada ketidakpastian, biasanya takut, jual dulu. Tapi kalau mereka nanti mengerti dampak yang sebetulnya seperti apa, harganya akan naik," kata Purbaya, Menteri Keuangan saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Purbaya memaparkan bahwa pendirian PT DSI ditujukan untuk memberantas praktik under-invoicing atau manipulasi penurunan laporan harga ekspor yang selama ini kerap menguntungkan entitas perusahaan di luar negeri milik segelintir oknum.

"Jadi yang tadi biasanya uangnya dimainkan oleh pemilik, karena perusahaan yang di luar negeri punya pemilik kan? Sekarang bisa harusnya terefleksi langsung di penjualan mereka yang murni," ujar Purbaya, Menteri Keuangan.

Melalui sistem pertukaran yang baru ini, seluruh transaksi penjualan komoditas strategis diharapkan bisa tercatat secara murni pada laporan keuangan domestik sehingga memperbesar profitabilitas emiten terkait.

"Jadi perusahaannya juga akan untung. Jadi harusnya bisa double untungnya yang listed di bursa, yang dilaporkan ya. Harusnya ini akan meningkatkan valuasi dari perusahaan-perusahaan yang di bursa. Jadi pasti pelan-pelan akan naik secara signifikan kalau menurut saya," pungkas Purbaya, Menteri Keuangan.

Di sisi lain, analis Samuel Sekuritas Indonesia, Juan Harahap dan Fadhlan Banny, memproyeksikan kebijakan penunjukan BUMN sebagai pengekspor tunggal untuk CPO, batu bara, dan ferro-alloy berisiko mengoreksi margin profitabilitas emiten eksportir.

“Kami melihat pelaksanaan reformasi ini sebagai potensi hambatan bagi komoditas terkait. Secara finansial, risiko penurunan dapat muncul dari harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) yang lebih rendah, kerugian nilai tukar (karena transaksi dengan BUMN diharapkan diselesaikan dalam rupiah) dan biaya layanan pihak lawan yang dikenakan oleh Danantara, yang semuanya berpotensi menekan margin perusahaan ekspor,” ujar Juan Harahap dan Fadhlan Banny, analis Samuel Sekuritas Indonesia dalam risetnya yang dikutip dari Kontan, Kamis (21/5/2026).

Selain potensi terpangkasnya margin akibat biaya layanan, Samuel Sekuritas Indonesia juga menyoroti potensi risiko birokrasi yang memperpanjang waktu tunggu proses ekspor, meskipun emiten dengan eksposur domestik tinggi seperti PTBA, BUMI, INDY, NSSS, dan BWPT diprediksi akan lebih tangguh.

Sementara itu, riset dari Stockbit Sekuritas melansir bahwa pembentukan badan pengelola ekspor ini secara konsep bernilai positif dalam menekan aktivitas tambang atau perkebunan ilegal serta mendongkrak penerimaan pajak dan PNBP negara.

“Namun, faktor eksekusi menjadi poin penting yang perlu diperhatikan,” tulis Stockbit Sekuritas dalam risetnya yang dikutip dari Kontan, Kamis (21/5/2026).

“Kami menilai bahwa pergerakan sektor komoditas masih akan mengalami tekanan dalam jangka pendek sembari menunggu terbitnya detail aturan pelaksana,” ujar Stockbit Sekuritas mengenai mekanisme alur barang dan penentuan harga jual yang saat ini masih ditunggu oleh pasar.

Artikel terkait

Rekomendasi