Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan pada Rabu (20/5) di zona merah. Dikutip dari Detik Finance, indeks mengalami penurunan sebesar 0,82% yang membuatnya menempati posisi 6.318,50.
Koreksi yang dialami indeks dipicu oleh tekanan pada sebagian besar sektor saham. Sektor industri dasar menjadi lini yang mengalami kejatuhan paling dalam setelah merosot hingga 4,67%.
Meski demikian, sektor keuangan tampil sebagai penahan kejatuhan pasar dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,21%. Saham Mora Telematika Indonesia (MORA) memimpin penguatan dengan lonjakan 19,75%, diikuti Sinarmas Multiartha (SMMA) yang menguat 8,49%, dan Bank Mandiri (BMRI) dengan kenaikan 2,42%.
Sebaliknya, barisan saham dari kelompok petrokimia serta energi menjadi penekan utama pergerakan IHSG. Saham Chandra Asri Pacific (TPIA) merosot 14,74%, Barito Pacific (BRPT) turun 10,18%, dan Barito Renewables Energy (BREN) melemah 7,62%.
Pada pasar reguler, investor asing membukukan aksi jual bersih dengan nilai mencapai Rp130,88 miIiar. Walau demikian, jika dihitung pada seluruh pasar, investor asing masih mencatat beli bersih dengan total Rp249,17 miliar.
Arah pasar juga terpengaruh oleh sentimen atas rencana pemerintah yang ingin mendirikan BUMN ekspor untuk memusatkan kegiatan ekspor CPO serta batu bara. Langkah kebijakan ini dinilai memberikan tekanan tambahan terhadap saham-saham yang berbasis komoditas.
Di samping itu, para pelaku pasar tengah menantikan publikasi notulen dari rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed. Sentimen domestik lain yang ditunggu adalah rilis data neraca berjalan Indonesia triwulan I-2026 yang diperkirakan mengalami defisit sebesar US$4,50 miliar.
Dari panggung global, bursa saham Amerika Serikat mencatatkan penutupan yang positif. Indeks Dow Jones merangkak naik 1,31% menuju level 50.009, S&P 500 bertambah 1,08% ke angka 7.432, sementara Nasdaq menanjak 1,55% menuju posisi 26.270.
PT Indika Energy Tbk. (INDY) membukukan perolehan laba bersih senilai US$13,59 juta pada triwulan pertama tahun 2026. Jumlah tersebut memperlihatkan pertumbuhan sebesar 33,88% jika dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya yang bernilai US$10,15 juta.
Pendapatan INDY terkerek tipis menjadi US$493,21 juta dari realisasi sebelumnya yang berada di angka US$489,59 juta. Perusahaan juga mencatatkan lonjakan pada pendapatan investasi sebesar 73,51% menjadi US$5,47 juta, yang ditopang oleh ekspansi investasi di Nanshan Aluminium International Holdings Ltd sebesar US$20,04 juta.
Di sisi lain, jumlah pengeluaran total perusahaan berhasil ditekan sebesar 1,57% menjadi US$419,18 juta. Penurunan beban ini dipengaruhi oleh bertambahnya persediaan batu bara pada kuartal berjalan, sehingga memangkas biaya pokok penjualan secara tahunan.
Situasi tersebut mengindikasikan bahwa volume produksi batu bara korporasi berada pada level yang lebih tinggi daripada volume penjualan sepanjang kuartal bersangkutan.
Target Ekspansi Cisadane Sawit Raya
PT Cisadane Sawit Raya Tbk. (CSRA) menetapkan target volume pengolahan tandan buah segar (TBS) sebanyak 700 ribu ton pada tahun ini. Target ini meningkat dibandingkan dengan pencapaian tahun lalu yang sebesar 500 ribu ton.
Hingga periode kuartal I-2026, realisasi produksi TBS yang dicatatkan oleh perseroan telah memenuhi kisaran 18% dari keseluruhan target tahunan. Untuk memuluskan agenda ekspansi tersebut, CSRA mengalokasikan dana belanja modal senilai Rp100 miliar.
Dana belanja modal ini disiapkan untuk mendanai program penanaman kembali atau replanting serta memperluas kepemilikan lahan. CSRA juga memproyeksikan target pendapatan tahun ini dapat tumbuh mencapai Rp2 triliun dari perolehan sebelumnya yang bernilai Rp1,89 triliun.
Aksi Buyback Saham Bangun Kosambi Sukses
PT Bangun Kosambi Sukses (CBDK) menyiapkan alokasi dana dengan jumlah paling banyak Rp250 miliar untuk meluncurkan aksi pembelian kembali saham. Pendanaan aksi korporasi ini sepenuhnya bersumber dari kas internal perseroan.
Hingga triwulan pertama tahun 2026, posisi kas internal yang dimiliki oleh korporasi tercatat berada di angka Rp2,75 triliun. Manajemen menyebutkan bahwa proses buyback saham dijadwalkan berlangsung dalam rentang waktu mulai 20 Mei hingga 19 Agustus 2026.
Pelaksanaan aksi pasar ini akan difasilitasi melalui perantara Ina Sekuritas Indonesia. Manajemen menegaskan bahwa volume saham yang akan dibeli kembali bakal tetap mengikuti seluruh ketentuan POJK yang mengatur tentang saham treasuri.