Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah dengan koreksi sebesar 0,92 persen ke level 6.905 pada penutupan perdagangan Senin, 11 Mei 2026. Penurunan ini dipicu oleh ketidakpastian regulasi royalti tambang domestik serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, sebagaimana dilansir dari Suara.
Data perdagangan menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp20,41 triliun dengan frekuensi 2,80 juta kali. Tercatat sebanyak 463 saham mengalami pelemahan, sementara 263 saham menguat, dan 233 saham lainnya tidak bergerak pada hari ini.
Kondisi pasar sempat menunjukkan pemulihan tipis pada sesi pertama setelah munculnya kabar penundaan tarif royalti untuk komoditas nikel, emas, hingga perak oleh Menteri ESDM. Namun, sentimen positif tersebut luntur setelah Kementerian Keuangan menegaskan aturan baru akan tetap berlaku mulai Juni 2026.
Analisis dari Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut membebani pasar saham regional. Penolakan Amerika Serikat terhadap proposal damai Iran memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang berdampak negatif pada mayoritas bursa di Asia.
"Sehingga IHSG kembali melemah," kata Phintraco Sekuritas.
Pihak sekuritas juga menyoroti indikator teknikal yang menunjukkan potensi pelemahan lebih lanjut di masa mendatang. Kondisi makroekonomi dalam negeri kian tertekan akibat nilai tukar rupiah yang telah menembus angka Rp17.400 per dolar AS.
"Histogram negatif MACD kembali melemah dan terjadi death cross stochastic RSI di area pivot," tulis Phintraco Sekuritas.
Berikut adalah rincian performa saham pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026:
| Kategori | Kode Saham |
|---|---|
| Top Gainers | DPUM, DFAM, LABS, MORA, MEDS |
| Top Losers | NIKL, ASPR, SHIP, TALF, TIRA |