IHSG Melemah 3,53 Persen Akibat Sentimen Global

IHSG Melemah 3,53 Persen Akibat Sentimen Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi cukup dalam hingga mencatatkan pelemahan akumulatif sebesar 3,53 persen dalam sepekan terakhir. Penurunan ini dipicu oleh tingginya volatilitas dan meningkatnya ketidakpastian global yang menekan sentimen investor di pasar saham Asia.

Pergerakan bursa domestik yang dilansir dari Investasi menunjukkan tekanan jual mendominasi pasar sepanjang pekan ini. Pada Rabu (13/5/2026), IHSG ditutup merosot 1,98 persen dan terlempar ke level 6.723,32 jika dibandingkan dengan hari sebelumnya.

Gejolak pasar eksternal dipengaruhi kuat oleh perkembangan hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan China. Situasi tersebut mencakup ekspektasi pasar terhadap hasil pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping yang memicu kehati-hatian investor.

"Pelaku pasar masih mencermati ketidakpastian kebijakan tarif impor yang berpotensi menekan prospek pertumbuhan global," ujar Nafan Aji Gusta, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas pada Jumat (15/5).

Selain masalah perdagangan bilateral tersebut, para pelaku pasar modal turut menyoroti fluktuasi harga minyak mentah dunia, rilis data tenaga kerja AS, serta proyeksi arah kebijakan suku bunga global. Nafan Aji Gusta menilai inflasi tinggi di negara maju memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat.

"Biasanya ada catch-up terhadap pergerakan bursa global," kata Nafan Aji Gusta saat memproyeksikan potensi penyesuaian IHSG pada awal pekan depan mengikuti dinamika bursa luar negeri selama libur panjang.

Kondisi pasar yang tidak menentu ini juga diperparah oleh konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan di wilayah tersebut memicu imported inflation atau tekanan inflasi global yang disalurkan melalui lonjakan harga komoditas dan biaya energi.

Pelemahan indeks saham domestik ini juga dikonfirmasi oleh analis pasar modal lainnya yang mencatat maraknya aksi jual saham di dalam negeri oleh para pemodal.

"Selama sepekan ini IHSG didominasi oleh tekanan jual," kata Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas.

Herditya Wicaksana menjelaskan bahwa kombinasi faktor eksternal menjadi pemicu utama, seperti inflasi AS yang membuka peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama dan aksi rebalancing indeks global yang mendorong arus modal asing keluar. Faktor internal berupa depresiasi nilai tukar rupiah hingga sempat menyentuh kisaran Rp17.500 per dolar AS serta waktu perdagangan yang lebih singkat ikut memperberat posisi IHSG.

Artikel terkait

Rekomendasi