IHSG Melemah ke Level 6.890 Akibat Sentimen Global dan Pajak Nikel

IHSG Melemah ke Level 6.890 Akibat Sentimen Global dan Pajak Nikel

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 1,14 persen atau menyusut 79 poin ke posisi 6.890 pada sesi pertama perdagangan Senin, 11 Mei 2026. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi tekanan geopolitik global di Timur Tengah dan rencana kebijakan pajak komoditas domestik sebagaimana dilansir dari Suara.

Data perdagangan menunjukkan sebanyak 462 saham melemah, sementara 242 saham menguat dan 255 saham stagnan. Total transaksi mencapai Rp 11,43 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 22,83 juta saham pada sesi tersebut.

Penurunan indeks dipengaruhi oleh dinamika di kawasan Asia yang merespons penolakan Amerika Serikat terhadap proposal perdamaian di Timur Tengah. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar akan gangguan distribusi energi dunia melalui jalur pelayaran strategis.

"Bursa regional Asia bergerak mixed setelah Presiden AS Trump menolak tanggapan Iran terhadap proposal perundingan perdamaian, sehingga meredupkan harapan akan berakhirnya konflik yang telah mendorong kenaikan biaya energi global," tulis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam risetnya.

Pihak analis menjelaskan bahwa penolakan tersebut memperkuat kecemasan pasar terhadap potensi kendala di Selat Hormuz. Selain itu, investor menanti pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping pada 14-15 Mei 2026 di Beijing untuk kepastian hubungan dagang.

Dari sisi domestik, pasar merespons rencana pemerintah terkait pengenaan windfall tax pada sektor pertambangan nikel serta bea keluar batu bara. Langkah ini dinilai menekan prospek pendapatan perusahaan di tengah fluktuasi harga komoditas dunia.

"Hal ini tentunya akan membebani pelaku usaha dan berdampak pada tekanan margin laba di tengah situasi fluktuatif harga global," lanjut Pilarmas.

Meskipun pasar saham tertekan, indikator ekonomi makro menunjukkan ketahanan pada sisi konsumsi masyarakat. Bank Indonesia melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 berada di level 123,0, sedikit meningkat dari posisi 122,9 pada bulan sebelumnya.

Dalam laporan risetnya, lembaga sekuritas tersebut juga memberikan catatan teknikal bagi investor terkait saham emiten sektor pariwisata. Penentuan level dukungan dan hambatan menjadi dasar rekomendasi beli bagi saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA).

"BUY dengan support dan resistance 925 – 1.250," tulis Pilarmas.

Beberapa saham yang mencatat kenaikan tertinggi antara lain LABS, MEDS, IKPM, DPUM, dan FIRE. Sebaliknya, posisi pelemahan terdalam dialami oleh saham NIKL, ASPR, SHIP, MGNA, dan HRME di tengah aksi jual menjelang rebalancing indeks MSCI Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi