Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan paling besar di wilayah Asia Pasifik hingga merosot 3,44 persen ke level 6.102,63 pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Pelemahan ini dipicu oleh sentimen rebalancing indeks MSCI terhadap saham-saham Indonesia serta perubahan kebijakan domestik, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Koreksi tajam menimpa indeks saham Garuda setelah sebelumnya sempat dibuka menguat pada posisi 6.378,81 di pagi hari. Faktor pengumuman MSCI tersebut dilaporkan memberi dampak langsung pada pergerakan 18 saham besar di Indonesia yang dikeluarkan dari indeks global.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi memaparkan bahwa penurunan performa sejumlah saham terjadi karena adanya kewajiban penyesuaian portofolio investasi.
"Kalau kemarin memang kami mengonfirmasi ada korelasi betul dengan dampak dari rebalancing atau pengumuman MSCI, di mana saham-saham yang terdampak, yang masuk sebelumnya di dalam konstituen atau anggota indeks Standard dan juga small cap MSCI yang keluar itu betul-betul sudah mulai mengalami tekanan akibat kewajiban rebalancing portofolio terutama dari ETF maupun reksa dana pasif yang dimiliki oleh berbagai pihak yang mengacu pada indeks tersebut," ungkap Hasan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Menurut otoritas pasar modal, penurunan nilai saham ini diperkirakan masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan. Dampak penyesuaian portofolio akibat keluarnya belasan saham dari indeks MSCI akan terus berjalan hingga kebijakan tersebut resmi berlaku efektif setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026.
"Nanti kita lihat apakah net-nya nanti akan ada net outflow atau net inflow dalam hal ini. Mungkin dan memang sepertinya sudah di persepsi pasar, besar kemungkinan tetap pada akhirnya akan ada sebagian net outflow dimaksud," jelas Hasan.
Selain sentimen global, pergerakan indeks domestik ikut terpengaruh oleh respons pelaku pasar terhadap aturan baru mengenai ekspor komoditas sumber daya alam melalui BUMN. Kebijakan satu pintu tersebut memicu para investor untuk mengatur ulang strategi dan alokasi investasi mereka di pasar modal dalam jangka pendek.
"Saya kira pasti ya. Artinya, itu pasti direspons secara jangka pendek dan kami confirm dan berharap tentu pada saatnya apa yang menjadi policy yang digariskan oleh pemerintah, nanti akan ada penjelasan dan penjabaran secara lebih rinci termasuk pentahapannya dan kapan katakanlah implementasinya. Nah, ini juga tentu akan baik sehingga memberikan informasi yang lebih rinci tadi dan memberikan semakin kepastian arah pengembangan ke depan," terang Hasan.
OJK menilai penurunan yang terjadi pada beberapa saham unggulan bermodal besar masih berada dalam koridor kewajaran. Pelemahan signifikan hingga menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB) dikonfirmasi hanya dialami oleh saham-saham yang langsung berkaitan dengan pengumuman MSCI.
"Jadi, ARB-nya, ARB yang memang merespons itu juga. Nah sementara saham-saham lainnya terjadi penurunan tapi tidak sampai menyentuh batas bawah, dan yang turun pun kami pastikan memang terkait dengan reaksi langsung investor atas perkembangan kebijakan baik domestik maupun perkembangan di global," pungkas Hasan.
Kondisi pasar modal Indonesia berbanding terbalik dengan mayoritas bursa acuan Asia yang bergerak menguat setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai tahap akhir negosiasi dengan Iran. Indeks Nikkei 225 Jepang melesat 3,54 persen, Kospi Korea Selatan melonjak hingga 7 persen, Kosdaq naik 4,88 persen, S&P/ASX 200 Australia terangkat 1,62 persen, CSI 300 China naik 1,67 persen, dan Hang Seng Hong Kong menguat 0,24 persen.