Aksi jual bersih oleh investor asing senilai Rp 544,85 miliar memperpanjang tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang terus bergerak di zona merah, dilansir dari Investasi.
Kombinasi sentimen domestik dan global menjadi pemicu koreksi IHSG tersebut. Faktor utamanya berasal dari tekanan saham berkapitalisasi besar yang keluar dari indeks MSCI, serta keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.
Kenaikan suku bunga acuan tersebut dinilai berpotensi menahan laju pertumbuhan kredit perbankan dan aktivitas ekonomi nasional. Selain itu, pasar eksternal juga mencermati isyarat Federal Open Market Committee terkait bertahannya suku bunga tinggi di Amerika Serikat akibat inflasi.
Arus dana global kini cenderung bergerak lebih berhati-hati terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Secara teknikal pada perdagangan Jumat (22/5), IHSG dinilai masih berisiko melanjutkan pelemahan dengan area support penting di level 6.000 dan kisaran resistance di 6.132.
"Dampaknya bisa menahan laju pertumbuhan kredit perbankan," ujar Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas.
Tekanan besar di pasar modal juga dipicu oleh respons negatif investor terhadap ketidakpastian sejumlah kebijakan domestik. Rencana pembentukan badan pengatur ekspor sumber daya alam memunculkan kekhawatiran bertambahnya birokrasi dan penurunan daya saing ekspor nasional.
Secara teknikal, tren pergerakan indeks saham ini dinilai masih bearish dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat. Jika level support 6.000 berhasil ditembus, indeks berpotensi melemah ke kisaran 5.880 hingga 5.900, meski peluang rebound jangka pendek dari aksi bargain hunting saham big caps tetap terbuka.