IHSG Melemah di Tengah Sinyal Oversold dan Tekanan Rupiah

IHSG Melemah di Tengah Sinyal Oversold dan Tekanan Rupiah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejatinya sudah berada dalam kondisi extremely oversold berdasarkan indikator RSI meskipun tren penurunan atau downtrend masih terus terjadi, dilansir dari Investasi.

Kondisi pasar modal saat ini menunjukkan indikator Stochastics K_D memberikan sinyal negatif, namun di sisi lain volume perdagangan dilaporkan mulai menguat.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta menyarankan agar para pelaku pasar bisa lebih selektif dalam menentukan aset dengan melihat kondisi fundamental yang baik.

"Fokus pada saham pilihan dengan fundamental solid; fokus pada saham bervaluasi murah; fokus terhadap saham yang menunjukkan arah pembalikan tren, dan; gunakan manajemen risiko dengan disiplin," ujar Nafan dalam risetnya, Kamis (4/6/2026).

Tekanan pada indeks saham juga dipicu oleh aksi jual yang dilakukan oleh investor asing di pasar domestik yang masih terus berlanjut hingga saat ini.

Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih atau net sell dengan nilai mencapai sekitar Rp 864 miliar, yang kemudian menambah akumulasi tekanan pada berbagai saham berkapitalisasi besar.

Sentimen negatif lain datang dari perilisan peringkat Baa2 (investment grade) dari Moody's terhadap Danantara Investment Management (DIM) yang disertai dengan outlook negatif.

Probabilitas penurunan rating dalam horizon ke depan dinilai dapat meningkat bila faktor risiko tidak membaik, sehingga langsung direspons negatif oleh pelaku pasar melalui aksi jual masif.

Kondisi tersebut memicu pelemahan nilai tukar rupiah yang bergerak merosot drastis hingga menembus angka Rp 18.000 per dolar AS serta memicu kekhawatiran fiskal baru.

Menteri Keuangan Purbaya menyebutkan bahwa anjloknya nilai mata uang garuda tersebut bukan disebabkan oleh masalah fiskal, melainkan akibat sentimen dan rumor yang berkembang.

Para pelaku pasar saat ini juga tengah mengantisipasi sentimen jangka pendek dari realisasi rebalancing indeks global seperti FTSE Russell yang akan efektif pada 22 Juni 2026.

Agenda rebalancing tersebut turut mempengaruhi pergerakan dana pasif asing yang langsung melakukan penyesuaian pada portofolio investasi mereka di pasar domestik.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memaparkan bahwa indeks domestik melemah di tengah kenaikan yang terjadi pada mayoritas pasar saham di Asia lainnya.

Koreksi ini terjadi di tengah tekanan jual kuat pada beberapa saham terkait konglomerat serta adanya rumor potensi penurunan peringkat kredit Indonesia oleh S&P dari stabil menjadi negatif.

Selain itu, depresiasi nilai tukar rupiah yang terjadi secara berkelanjutan turut memberikan tekanan penurunan lebih lanjut bagi laju pergerakan indeks saham domestik.

"Kami memperkirakan IHSG akan bergerak dalam kisaran 5.884 – 5.967," ucap Herditya.

Artikel terkait

Rekomendasi