IHSG Melemah Tipis ke Level 6127 Akibat Tekanan Nilai Tukar Rupiah

IHSG Melemah Tipis ke Level 6127 Akibat Tekanan Nilai Tukar Rupiah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tipis sebesar 0,05 persen ke level 6.127,38 pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026). Penurunan performa indeks saham domestik ini menggenapi akumulasi pelemahan sebesar 0,56 persen sepanjang pekan berjalan, seperti dilansir dari Investasi.

Koreksi yang terjadi dipengaruhi oleh perpaduan sentimen domestik serta perkembangan geopolitik global. Salah satu faktor utama dari dalam negeri adalah pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot yang melemah hingga menyentuh angka Rp17.881 per dolar AS pada akhir pekan.

Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memaparkan sejumlah faktor yang mengondisikan pergerakan indeks selama satu minggu terakhir.

"Sepanjang pekan ini IHSG bergerak terkoreksi 0,56%, yang dipengaruhi oleh hari perdagangan yang relatif pendek, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, rebalancing MSCI, serta investor yang masih mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran," ujarnya.

Faktor eksternal seperti dinamika global dan ketegangan geopolitik terus dipantau oleh para pelaku pasar. Menghadapi pekan berikutnya, Herditya memproyeksikan indeks domestik masih rentan mengalami penurunan lanjutan dengan batas support di 6.071 dan resistance di 6.262.

"Untuk sepekan ke depan, IHSG masih rawan terkoreksi," jelasnya.

Beberapa indikator global dan domestik yang dijadwalkan rilis dalam waktu dekat diprediksi akan memengaruhi pasar. Di antaranya adalah data inflasi Indonesia, data tenaga kerja Amerika Serikat, rilis data PMI China, hingga kepastian perkembangan gencatan senjata sepanjang 60 hari.

Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai bahwa penurunan indeks terjadi bersamaan dengan momentum rebalancing MSCI.

"IHSG ditutup melemah tipis di tengah rebalancing MSCI. Meskipun terjadi tekanan jual terhadap beberapa saham, koreksi tidak sedalam yang dikhawatirkan karena sebelumnya sudah diantisipasi oleh investor," jelasnya.

Sentimen positif penguat pasar sebenarnya sempat muncul dari performa mayoritas indeks saham Asia yang terangkat oleh kenaikan sektor teknologi di Wall Street serta penurunan harga minyak mentah. Secara teknikal, Alrich memproyeksikan pergerakan indeks akan mendatar pada rentang 6.000 hingga 6.300.

"Stochastic RSI melanjutkan reversal ke arah pivot dan histogram negatif MACD menyempit, sehingga IHSG berpotensi bergerak sideways di kisaran 6.000-6.300 pada pekan depan," paparnya.

Secara sektoral, penurunan paling tajam dialami oleh saham di bidang kesehatan, sedangkan sektor infrastruktur menorehkan penguatan tertinggi. Beberapa saham yang direkomendasikan untuk dicermati pada pekan depan meliputi DEWA pada rentang Rp384 - Rp412, UNTR di kisaran Rp24.225 - Rp25.250, serta UNVR pada level Rp1.805 - Rp2.000.

Artikel terkait

Rekomendasi