Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 4,82 persen menuju posisi 5.599 pada perdagangan sesi pertama hari Selasa, 9 Juni 2026. Berdasarkan informasi yang dikutip dari Suara, indeks saham domestik tersebut melesat hingga 257 poin.
Performa positif bursa saham ini didorong oleh meredanya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Selain itu, realisasi surplus perdagangan China yang melampaui estimasi pasar turut menjadi motor penggerak utama dari ranah global.
Arah pergerakan pasar juga ditopang oleh sentimen domestik yang kondusif. Faktor penentu tersebut meliputi rencana aksi korporasi berupa pembelian kembali saham oleh emiten BUMN, serta adanya kepastian hukum terkait regulasi fiskal di sektor pertambangan mineral dan batu bara.
Pelaku pasar merespons positif kabar damai dari Timur Tengah setelah Iran dan Israel dilaporkan sepakat untuk menghentikan aksi saling serang. Langkah deeskalasi ini membangkitkan optimisme global terhadap stabilitas ekonomi dan pengendalian laju inflasi energi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut mengonfirmasi bahwa kedua negara tersebut sedang mengupayakan gencatan senjata, dengan proses negosiasi akhir yang masih terus berjalan hingga saat ini.
Katalis positif lainnya bersumber dari China yang mencatatkan surplus perdagangan sebesar 105,43 miliar dolar AS pada Mei 2026. Realisasi ini mencerminkan kenaikan dari periode yang sama tahun lalu sebesar 102,72 miliar dolar AS, sekaligus melampaui proyeksi pasar yang sebesar 92,1 billion dolar AS.
"Ini merupakan surplus perdagangan terbesar sejak Januari, didukung peningkatan ekspor dan impor yang sama-sama tumbuh kuat," tulis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam riset Day Break Review, Selasa (9/6/2026).
Faktor Pendorong Internal Pasar Domestik
Di tengah tekanan makroekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah yang masih melanda, sentimen investor domestik berhasil mengalami perbaikan. Kondisi ini dipicu oleh adanya pertemuan pimpinan DPR bersama jajaran bank Himbara, BPJS Ketenagakerjaan, dan perusahaan asuransi milik negara.
Pertemuan strategis tersebut digelar secara khusus untuk mengkaji rencana aksi korporasi pembelian kembali atau buyback saham-saham BUMN. Langkah taktis ini dinilai efektif untuk memulihkan kepercayaan para pelaku pasar sekaligus meredam volatilitas tinggi di lantai bursa.
Sektor pertambangan juga menyumbang kepastian baru setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menegaskan bahwa skema bagi hasil gross split hanya diperuntukkan bagi sektor minyak dan gas bumi. Kebijakan ini dipastikan tidak akan diimplementasikan pada sektor mineral dan batu bara.
Klarifikasi resmi tersebut sukses menghapus kekhawatiran para pelaku usaha yang sebelumnya resah terhadap isu perubahan regulasi. Langkah pemerintah ini dinilai berhati-hati dalam mengelola rezim fiskal agar tidak mengganggu iklim investasi serta program hilirisasi yang tengah berjalan.
Rekomendasi Saham dan Data Perdagangan
Untuk periode perdagangan berikutnya, Pilarmas Investindo Sekuritas menyematkan rating beli (buy) terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Emiten perbankan plat merah ini tercatat memiliki area support pada level 2.540 dengan area resistance di posisi 2.850.
Aktivitas perdagangan pada sesi pertama mencatat volume transaksi mencapai 23,21 juta saham dengan nilai perputaran uang sebesar Rp 13,78 triliun. Sepanjang sesi ini, frekuensi transaksi pasar tercatat sebanyak 1,45 juta kali.
Secara keseluruhan, terdapat 627 saham yang bergerak menguat dan 133 saham yang mengalami koreksi harga. Sementara itu, sebanyak 199 saham lainnya terpantau bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan nilai.
Barisan saham yang menempati jajaran pencetak keuntungan tertinggi atau top gainers pada sesi pertama ini meliputi BABY, AHAP, CTTH, SGRO, dan BUVA. Di sisi lain, saham-saham yang mengalami koreksi paling dalam atau top losers ditempati oleh GRIA, CTBN, MPMX, APLI, dan COAL.