Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bangkit tajam pada sesi pertama perdagangan Selasa (9/6/2026). Penguatan ini terjadi setelah sehari sebelumnya indeks terpuruk ke level terendah sejak November 2020.
Mengutip data RTI, dilansir dari Investasi, IHSG melesat 4,82% atau 257,60 poin ke level 5.599,74 hingga penutupan sesi I. Sebanyak 603 saham menguat, 118 saham melemah, dan 92 saham bergerak stagnan.
Aktivitas perdagangan terpantau ramai dengan total volume transaksi mencapai 24,7 miliar saham. Nilai transaksi pada paruh pertama perdagangan ini tercatat sebesar Rp 13,8 triliun.
Seluruh indeks sektoral yang bergerak di zona hijau menjadi penopang utama penguatan IHSG. Tiga sektor dengan kenaikan tertinggi dipimpin oleh IDX Industrial yang melonjak 5,93%, disusul IDX Basic Materials sebesar 5,71%, serta IDX Energy yang naik 5,08%.
Pada jajaran saham unggulan LQ45, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatat penguatan terbesar dengan melejit 11,86% ke level Rp 2.830 per saham.
Selanjutnya, saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) naik 10,48% menjadi Rp 1.160. Sementara itu, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) menguat 9,89% ke posisi Rp 1.500.
Kenaikan IHSG ini sejalan dengan sentimen positif yang melanda pasar saham Asia. Investor menyambut baik pernyataan Israel dan Iran yang sepakat menghentikan serangan untuk sementara waktu, sehingga meredakan kekhawatiran terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
Meredanya ketegangan geopolitik tersebut mendorong harga minyak turun dari level tertingginya. Kondisi ini membuat investor kembali memburu saham-saham teknologi dan semikonduktor yang sebelumnya mengalami tekanan jual cukup besar.
Di kawasan Asia, indeks saham Korea Selatan melonjak 3,4% setelah anjlok lebih dari 8% pada perdagangan sebelumnya. Indeks Nikkei 225 Jepang juga naik 0,9% setelah terkoreksi 3,9% sehari sebelumnya, sedangkan indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang menguat 1,5%.
Pasar saham China turut bergerak di zona positif. Indeks saham unggulan (blue-chip) China naik 0,4% setelah data perdagangan menunjukkan ekspor China pada Mei 2026 tumbuh 19,4% secara tahunan, melampaui ekspektasi pasar. Impor China juga meningkat 27,4%, lebih tinggi dibandingkan perkiraan analis.
Meski sentimen global membaik, sejumlah analis mengingatkan bahwa reli pasar masih perlu dicermati. Bank of America (BofA) mencatat hampir separuh pasar saham global saat ini telah berada dalam kondisi jenuh beli (overbought), terutama di Korea Selatan, Taiwan, dan Finlandia.
Selain itu, tekanan inflasi global masih relatif tinggi. BofA mencatat sebanyak 46 dari 68 bank sentral dunia masih menghadapi inflasi yang berada di atas target, sehingga pasar obligasi mulai memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat dalam beberapa waktu ke depan.
Kondisi tersebut berpotensi menjadi tantangan bagi pasar saham, terutama jika suku bunga global bertahan tinggi lebih lama dari perkiraan investor.