IHSG Menguat ke Level 6.162 Saham Komoditas Melejit

IHSG Menguat ke Level 6.162 Saham Komoditas Melejit

Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG) ditutup menguat 1,10% ke posisi 6.162,04 pada perdagangan Jumat (22/5), dilansir dari Detik Finance.

Kenaikan indeks tersebut didorong oleh penguatan sejumlah saham berbasis komoditas dan tambang.

Saham Merdeka Copper Gold (MDKA) memimpin lonjakan dengan kenaikan sebesar 24,77%.

Kenaikan ini diikuti oleh Emas Antam Indonesia (EMAS) yang tumbuh 19,67% dan Bumi Resources Minerals (BRMS) yang menguat 11,50%.

Sebaliknya, saham-saham berkapitalisasi besar justru mengalami koreksi dan menjadi penekan indeks.

Saham Telkom Indonesia (TLKM) mengalami penurunan sebesar 2,67%, sedangkan Astra International (ASII) terkoreksi 3,57%.

Pelemahan terdalam dialami oleh Bayan Resources (BYAN) yang merosot hingga 4,53%.

Aksi jual oleh investor asing terpantau masih berlanjut di pasar modal Indonesia.

Catatan jual bersih asing mencapai Rp1,07 triliun di pasar reguler dan sebesar Rp309,45 miliyar di seluruh pasar.

Berdasarkan pergerakan sektoral, mayoritas sektor saham bergerak di zona hijau.

Sektor basic industry mencatatkan penguatan tertinggi dengan kenaikan mencapai 6,85%.

Sementara itu, sektor keuangan menjadi penekan utama dengan pelemahan terdalam sebesar 0,28%.

Sentimen positif pasar juga didukung oleh penguatan bursa saham Amerika Serikat.

Indeks Dow Jones naik 0,58% ke level 50.579, S&P 500 bertambah 0,37% menjadi 7.473, dan Nasdaq menguat 0,19% ke posisi 26.343.

Pelaku pasar diperkirakan masih mencermati perkembangan kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT DSI.

Investor juga tengah menanti dampak dari rebalancing indeks MSCI yang akan mulai efektif pada 1 Juni.

Sentimen tersebut tercermin dari pergerakan ETF EIDO yang mendatar di level 0,08% dan MSCI Indonesia yang turun 0,95%.

Dari pasar global, FTSE Russell resmi mengeluarkan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dari indeks Large Cap.

FTSE menilai struktur kepemilikan saham DSSA terlalu terkonsentrasi dengan HSC mencapai 95,76%.

Tiga emiten lainnya, yaitu Daaz Bara Lestari (DAAZ), Hillcon (HILL), dan Mulia Industrindo (MLIA) dicoret dari indeks Micro Cap.

DAAZ dianggap belum memenuhi ketentuan minimum saham publik, sedangkan HILL dan MLIA dikeluarkan akibat aktivitas perdagangan yang tidak biasa.

Perubahan indeks ini berpotensi memicu arus dana asing keluar dari pasar Indonesia lebih dari US$2,86 miliar.

Kapitalisasi pasar Indonesia di FTSE diperkirakan turun di bawah US$88,15 miliar, dengan jumlah emiten menyusut dari 39 menjadi 35 perusahaan.

FTSE tetap membuka peluang revisi hingga penutupan perdagangan 5 Juni, sebelum komposisi final berlaku efektif pada 22 Juni 2026.

Rencana Corporate Action SINI dan INTP

Singaraja Putra Tbk (SINI) berencana menerbitkan 721,50 juta saham baru melalui skema rights issue.

Aksi korporasi ini dilakukan setelah mendapatkan persetujuan RUPS pada tanggal 26 Mei mendatang.

Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp5.000 per saham, perseroan berpotensi meraih dana segar sebesar Rp1,73 triliun.

Dana tersebut akan dialokasikan untuk mendukung akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), anak usaha Petrosea (PTRO).

SINI akan membayar Rp1,51 triliun secara tunai saat penyelesaian akuisisi terlaksana.

Sisa kewajiban senilai Rp218,40 miliar ditambah bunga 7,5% per tahun bakal dibayar bertahap hingga akhir 2028 dengan kas internal.

Posisi kas dan setara kas SINI per tahun 2025 tercatat berada pada angka Rp33,56 miliar.

Sementara itu, Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) memutuskan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp468 per saham.

Total nilai dividen yang dibagikan mencapai Rp1,54 triliun atau setara dengan 68,35% dari laba bersih perseroan.

Meskipun pendapatan INTP turun 4,40% secara tahunan menjadi Rp17,73 triliun, laba bersih perusahaan justru tumbuh 12,04% menjadi Rp2,25 triliun.

Laba per saham mengalami peningkatan menjadi Rp674,50 jika dibandingkan dengan Rp591,49 pada tahun sebelumnya.

Saham INTP berada di level Rp4.900 per saham pada penutupan perdagangan terakhir dengan dividend yield sekitar 9,55%.

Dari sisi valuasi, saham INTP diperdagangkan pada PBV 0,74 kali dan PER 7,64 kali trailing twelve months (TTM).

Jadwal cum dividen INTP ditetapkan pada 3 Juni, sedangkan proses pembayaran dividen akan dilangsungkan pada 19 Juni 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi