IHSG Menguat ke Level 6218 pada Perdagangan Sesi Pertama

IHSG Menguat ke Level 6218 pada Perdagangan Sesi Pertama

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak sebesar 91 poin atau naik 1,49 persen ke level 6.218 pada penutupan perdagangan sesi pertama hari Selasa, 2 Juni 2026, dilansir dari Suara.

Kenaikan signifikan pasar saham Indonesia ini terjadi di tengah pelemahan mayoritas bursa regional Asia yang terdampak oleh peningkatan ketidakpastian geopolitik di wilayah Timur Tengah.

Sentimen positif dari dalam negeri menjadi pendorong utama penguatan indeks melalui laporan data ekonomi domestik yang menunjukkan perbaikan pada aktivitas manufaktur nasional.

Dalam riset hariannya, analis Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan situasi pasar regional yang sedang mengalami tekanan akibat sentimen eksternal tersebut.

"Bursa regional Asia mengalami penurunan karena kebuntuan dalam negosiasi Amerika Serikat (AS)-Iran membebani sentimen risiko," tulis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam risetnya.

Pelaku pasar global dilaporkan masih bersikap hati-hati menyikapi dinamika hubungan AS dan Iran yang memicu volatilitas harga minyak mentah dunia.

Ketidakpastian tersebut meningkat setelah Iran menangguhkan pembicaraan dengan AS sebagai reaksi atas serangan Israel di Lebanon, ditambah adanya pernyataan kontradiktif antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Kondisi ekonomi domestik memberikan sokongan kuat karena aktivitas manufaktur nasional kembali masuk ke fase ekspansi, di mana Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia dari S&P Global naik menjadi 50,0 pada Mei 2026 dari angka 49,1 pada April 2026.

S&P Global menyatakan bahwa pemulihan sektor manufaktur ini didukung oleh pertumbuhan pesanan baru dari pasar domestik yang mencatatkan laju tercepat sejak Februari 2026.

Faktor pendukung lain muncul dari terkendalinya data inflasi Mei 2026 yang dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 0,28 persen secara bulanan dan 3,08 persen secara tahunan, tetap berada pada rentang target Bank Indonesia.

BPS juga mencatat neraca perdagangan Indonesia April 2026 surplus sebesar 90 juta dolar AS, dengan rincian nilai ekspor mencapai 25,30 miliar dolar AS dan nilai impor sebesar 25,21 miar dolar AS.

Laporan trafik perdagangan sesi I menunjukkan sebanyak 16,03 juta saham diperdagangkan dengan nilai transaksi Rp 14,81 triliun dan frekuensi 1,52 juta kali melalui pergerakan 347 saham naik, 338 saham turun, dan 274 saham stagnan.

Saham-saham yang membukukan penguatan terbesar meliputi NZIA, DSSA, MORE, CUAN, dan BREN, sedangkan penurunan terdalam dialami oleh saham ELPI, APIC, KJEN, ANDI, dan STAR.

Artikel terkait

Rekomendasi