Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuka menguat sebesar 60,75 poin atau 0,99 persen ke posisi 6.222,80 pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026. Sinyal pemulihan pasar modal Indonesia ini terjadi setelah indeks sempat tertekan cukup dalam pada pekan sebelumnya.
Data perdagangan awal sesi I menunjukkan sebanyak 405 saham bergerak menguat, 119 saham melemah, dan 435 saham stagnan. Nilai transaksi yang dibukukan pada awal perdagangan mencapai Rp743,8 miliar dengan volume perdagangan sebesar 1,43 miliar saham.
Aksi beli investor domestik berhasil menopang indeks meskipun investor asing sempat mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp309 miliar pada akhir pekan lalu. Penguatan kali ini didorong oleh respons positif pelaku pasar terhadap perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah.
"IHSG sudah dalam kondisi extremely oversold berdasarkan indikator RSI. Mengingat IHSG telah berhasil menguji target “wave 5 / A alt.” dan membentuk pola bullish pin bar," kata Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta.
Nafan menambahkan bahwa investor menyambut baik pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai penyelesaian negosiasi damai dengan Iran. Langkah pemulihan keamanan di Selat Hormuz tersebut dinilai berpotensi meredakan guncangan pada pasar energi global.
"Apabila terealisasi, langkah ini berpotensi mengakhiri konflik yang selama beberapa bulan terakhir mengganggu pasar energi global dan mendorong kenaikan inflasi di AS ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir," kata M. Nafan Aji Gusta.
Kondisi nilai tukar rupiah terpantau masih berada di posisi rentan pada level Rp17.717 per dolar AS. Pergerakan mata uang domestik ini tetap di bawah pengawasan ketat pasar meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps.
"Para investor cenderung wait and see melihat efektivitas intervensi BI dalam menstabilkan kurs," lanjut M. Nafan Aji Gusta.
Di sisi lain, analis pasar modal menilai bursa domestik masih menghadapi tantangan volatilitas yang tinggi dalam jangka pendek. Tekanan dari ekspektasi suku bunga global yang tetap tinggi dan perlambatan daya beli masyarakat membuat indeks masih rawan menguji area psikologis.
"Artinya, dana asing akan tetap memilih bertahan di aset dolar AS dibanding masuk ke emerging market seperti Indonesia," ujar Pengamat Pasar Modal Hendra Martono Liem.
Hendra menjelaskan bahwa pergerakan indeks ke depan akan sangat bergantung pada kepastian regulasi domestik dan arah kebijakan ekonomi pemerintah. Fase koreksi yang terjadi saat ini dinilai sebagai bagian dari proses pembentukan landasan baru pasar.
"Dengan kata lain, potensi koreksi menuju 6.000 masih cukup terbuka sebelum IHSG kembali menemukan momentum penguatan yang lebih solid," kata Hendra Martono Liem.
Meskipun pasar masih berada dalam tekanan global, valuasi sejumlah saham berkapitalisasi besar tercatat sudah memasuki area murah. Situasi ini dinilai membuka ruang bagi investor ritel maupun institusi untuk melakukan akumulasi secara bertahap.
"Biasanya fase seperti ini ditandai volatilitas tinggi, indeks naik turun tajam, namun saham-saham tertentu mulai diam-diam dikoleksi pelaku besar," tutur Hendra Martono Liem.
Aktivitas perdagangan pada pekan ini juga diprediksi berjalan lebih pendek karena adanya hari libur nasional Idul Adha. Pelaku pasar disarankan tetap menerapkan manajemen risiko yang ketat dalam melakukan transaksi jangka pendek.