Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan pada perdagangan Selasa (2/6/2026) yang didorong oleh performa positif sektor energi serta perbankan, berdasarkan data yang dilansir dari Investasi.
Kenaikan indeks tersebut diwarnai dengan aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing yang mencapai Rp 1,39 triliun di seluruh pasar, dengan rincian Rp 1,37 triliun di pasar reguler dan Rp 20,41 miliar di pasar tunai serta negosiasi. Sebanyak 281 saham tercatat mengalami kenaikan, 389 saham melemah, dan 147 saham lainnya bergerak stagnan.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai bahwa pergerakan indeks hari ini juga ditopang oleh penguatan emiten-emiten konglomerasi.
"Dari global, investor masih mencermati perkembangan Amerika Serikat (AS)-Iran yang masih dalam tahapan negosiasi, serta nilai tukar rupiah yang menguat terhadap dolar AS," ujarnya kepada Kontan, Selasa (2/6).
Herditya memproyeksikan IHSG berpotensi menguat terbatas pada perdagangan Rabu (3/6/2026) dengan area support di level 6.112 dan resistance di 6.286.
"Investor akan mencermati data pekerjaan AS dan juga sentimen global seperti Timur Tengah," paparnya.
Untuk strategi investasi, Herditya merekomendasikan pelaku pasar untuk memperhatikan saham BRPT dengan target harga Rp 2.140 - Rp 2.520, INCO pada rentang Rp 5.025 - Rp 5.575, serta IMPC di kisaran Rp 2.020 - Rp 2.240 per saham.
Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menjelaskan bahwa lonjakan saham perbankan besar dan konglomerasi menjadi pemicu utama sentimen positif setelah pasar tertekan akibat rebalancing indeks MSCI beberapa hari sebelumnya.
Faktor domestik ikut memengaruhi psikologis pasar seiring rilis data inflasi tahunan Indonesia bulan Mei 2026 sebesar 3,08% yang dinilai terkendali bagi stabilitas kebijakan moneter, ditambah inflasi bulanan sebesar 0,28% yang mencerminkan konsumsi masyarakat yang terjaga.
"Di sisi lain, surplus neraca dagang April 2026 yang hanya mencapai US$ 89,1 juta atau menjadi yang terendah dalam enam tahun terakhir menunjukkan perlambatan kontribusi sektor eksternal sehingga menjadi sentimen yang membatasi penguatan IHSG," ujarnya kepada Kontan, Selasa.
Reza memprediksi pergerakan IHSG esok hari cenderung variatif atau mixed tetapi tetap berpeluang menguat terbatas pada kisaran support 5.960–6.060 dan resistance 6.290–6.365.
Selain ketegangan di Timur Tengah, pelaku pasar sedang mengantisipasi rebalancing indeks FTSE Russell yang berlaku efektif pada 22 Juni 2026 karena diproyeksikan memengaruhi saham-saham berkapitalisasi besar.
"Di dalam negeri, stabilisasi rupiah serta harapan terhadap arus dana asing pasca berakhirnya tekanan rebalancing MSCI berpotensi menjadi faktor pendukung pergerakan indeks dalam jangka pendek," tuturnya.
Sebagai rekomendasi akhir, Reza menyarankan aksi beli untuk saham SUPA dengan target resistance Rp 885 - Rp 905, DMAS di Rp 162 - Rp 165, dan AKRA pada target Rp 1.315 - Rp 1.355 per saham.