Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan posisinya di zona hijau sampai akhir sesi perdagangan. Dilansir dari Suara, indeks saham utama ini mengalami kenaikan sebesar 1,11 persen atau bertambah 68 poin ke posisi 6.195,43 pada penutupan perdagangan Selasa, 2 Juni 2026 di Bursa Efek Indonesia.
Aktivitas perdagangan hari ini mencatat sebanyak 26,58 juta saham diperjualbelikan. Nilai transaksi secara keseluruhan mencapai Rp 25,42 triliun dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,51 juta kali.
Pergerakan saham menunjukkan dinamika yang cukup ketat, di mana sebanyak 291 saham bergerak naik dan 410 saham mengalami penurunan. Sementara itu, terdapat 254 saham yang posisinya tidak berubah dari perdagangan sebelumnya.
Laju indeks mendapat sokongan kuat dari saham-saham di sektor energi yang melonjak hingga 1,61 persen. Kondisi ini berbanding terbalik dengan sektor transportasi yang merosot tajam sebesar 3,33 persen sekaligus menjadi sektor dengan penurunan terdalam.
Risalah dari Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa penguatan bursa domestik ini terjadi di tengah pelemahan mayoritas bursa saham di Asia. Ketidakpastian terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama yang mendorong lonjakan harga minyak global.
"IHSG bergerak di teritori positif sepanjang perdagangan," tulis Phintraco Sekuritas dalam riset hariannya, Selasa (2/6/2026).
Apresiasi juga terjadi di pasar valuta asing, di mana nilai tukar rupiah ditutup menguat sebesar 0,2 persen. Mata uang Garuda kini berada di level Rp17.830 per dolar AS.
Manufaktur Kembali Masuk Zona Ekspansi
Investor dalam negeri menyambut baik rilis data ekonomi yang memperlihatkan pemulihan pada sektor industri. Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia merangkak naik ke posisi 50 pada Mei 2026 dari angka 49,1 pada April 2026.
Pencapaian ini melampaui proyeksi pasar yang memperkirakan indeks berada di level 49,5. Hasil tersebut sekaligus menandai kembalinya sektor manufaktur ke area ekspansif.
Kendati demikian, pasar tetap memperhatikan penyusutan pada surplus neraca perdagangan Indonesia. Neraca perdagangan April 2026 mencatatkan surplus sebesar 90 juta dolar AS, turun signifikan dibandingkan bulan Maret 2026 yang sempat menyentuh 3,32 miliar dolar AS.
Faktor lain yang dipantau adalah laju inflasi tahunan yang bergerak naik menjadi 3,08 persen pada Mei 2026 dibanding 2,42 persen pada April 2026. Meski mengalami peningkatan, angka inflasi ini dinilai masih aman karena berada di dalam target sasaran Bank Indonesia.
Proyeksi Teknikal Perdagangan
Berdasarkan analisis grafik, potensi penguatan indeks saham dalam jangka pendek dinilai masih terbuka cukup lebar.
"Secara teknikal, IHSG bertahan di atas level MA5. Penyempitan histogram negatif MACD berlanjut dengan Stochastic RSI mengarah ke area pivot," tulis Phintraco Sekuritas.
Melihat indikator tersebut, Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan tren kenaikan pada sesi perdagangan berikutnya. Indeks diperkirakan akan menguji area resistance baru yang berada di kisaran level 6.220 hingga 6.280.
Pada perdagangan kali ini, jajaran saham yang menempati peringkat kenaikan tertinggi (top gainers) meliputi BEER, NZIA, KUAS, DSSA, dan BREN. Sebaliknya, kelompok saham yang mengalami koreksi terdalam (top losers) diisi oleh TRUE, ELPI, APIC, KJEN, dan EPAC.