Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,72 persen ke level 6.206,35 pada perdagangan Senin (25/5/2026) dilansir dari Investasi. Lonjakan performa ini ditopang oleh kembalinya gairah saham perbankan serta sentimen positif perundingan global antara Amerika Serikat dan Iran.
Aktivitas penguatan indeks ini terjadi secara mengejutkan di tengah gelombang tekanan yang cukup besar di pasar domestik. Pemodal asing tercatat membukukan aksi jual bersih mencapai Rp 2,22 triliun, bersamaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp 17.744 per dolar AS.
Kondisi pasar modal tersebut mendapat perhatian dari pelaku industri sekuritas. Rebound sektor perbankan dan respons pelaku pasar terhadap penurunan harga minyak dunia menjadi stimulus utama penguatan indeks domestik.
"Investor juga mencermati efek rebalancing MSCI dan kebijakan ekspor satu pintu," ujar Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas.
Untuk pergerakan selanjutnya, pergerakan indeks diproyeksikan akan mengalami penguatan secara terbatas. Skema pergerakan diprediksi berada pada rentang area support 6.145 dan resistance 6.239 dalam durasi perdagangan yang lebih pendek.
Faktor eksternal lain berupa penurunan harga minyak mentah ke bawah US$ 100 per barel turut memberikan dampak positif bagi stabilitas pasar modal. Hal ini meningkatkan harapan atas tercapainya kesepakatan geopolitik global meskipun volatilitas tinggi masih membayangi pasar.
"IHSG masih bergerak fluktuatif di tengah bayang-bayang rebalancing MSCI dan implementasi kebijakan pemerintah," kata Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas.
Secara analisis teknikal, posisi indeks sempat melewati area MA5 sebelum akhirnya kembali ditutup pada posisi bawah target tersebut. Namun, indikator stochastic RSI memperlihatkan sinyal golden cross pada posisi jenuh jual yang menandakan adanya potensi penguatan lanjutan dalam rentang terbatas pada kisaran level 6.100 hingga 6.300.