IHSG Merosot 20,14 Persen Akibat Penundaan Rebalancing MSCI dan Konflik Global

IHSG Merosot 20,14 Persen Akibat Penundaan Rebalancing MSCI dan Konflik Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan rapor merah dengan penurunan signifikan mencapai 20,14 persen sepanjang tahun 2026. Kondisi pasar modal domestik ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan indeks global serta situasi geopolitik internasional.

Dilansir dari Suara, data Stockbit pada Selasa (12/5/2026) menunjukkan IHSG telah merosot dari posisi awal di level 8.646 menuju level 6.905 secara year-to-date. Gejolak ini mulai terasa sejak tiga bulan pertama tahun ini.

Penyebab utama dari performa pasar yang memburuk ini diawali oleh keputusan penundaan Rebalancing MSCI pada awal tahun. Selain itu, eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran turut menekan indeks karena memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.

Dampak dari ketidakpastian tersebut terlihat dari masifnya aksi jual oleh pemodal internasional. Berdasarkan catatan Philips Sekuritas, investor asing telah menarik dana keluar dari pasar reguler Indonesia sebesar Rp 48,46 triliun sejak awal tahun.

Eksodus modal asing ini secara otomatis menggerus nilai kapitalisasi pasar atau market cap secara drastis. Pada akhir Januari, kapitalisasi pasar masih berada di angka Rp 15.046 triliun, namun kini terkontraksi menjadi Rp 12.283 triliun.

Mandiri Sekuritas memprediksi bahwa rilis tinjauan indeks global oleh MSCI pada hari ini akan menjadi indikator krusial bagi arah aliran modal asing. Hasil evaluasi tersebut diperkirakan bakal mendikte pergerakan pasar dalam dua bulan mendatang.

Sebelumnya, MSCI sempat membekukan indeksnya di Indonesia pada Februari lalu. Sejak saat itu, Bursa Efek Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan telah mengupayakan berbagai reformasi pasar guna memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh lembaga indeks internasional tersebut.

Kresna Hutabarat, Deputi Kepala Equity Research & Strategy Mandiri Sekuritas, memberikan pandangannya terkait situasi ini di Jakarta pada Senin (11/5/2026). Ia menekankan pentingnya posisi emiten Indonesia dalam indeks tersebut.

"Mengenai target IHSG ke depannya, kami masih menjaga target IHSG kami di 9.050 poin. Tapi kembali memang kami melihat potensi revisi ke bawah mengingat adanya potensi tekanan margin akibat dari volatilitas makro yang meningkat dan juga tekanan beban energi ke depannya," kata Kresna.

Keputusan apakah bobot saham Indonesia akan dipertahankan, ditingkatkan, atau justru dikurangi dalam indeks MSCI akan langsung direspons oleh investor global. Hal ini menjadi faktor penentu apakah aksi beli atau jual yang akan mendominasi lantai bursa dalam waktu dekat.

Artikel terkait

Rekomendasi