IHSG Merosot 19 Persen Picu Kepanikan Investor Muda Pasar Modal

IHSG Merosot 19 Persen Picu Kepanikan Investor Muda Pasar Modal

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir ke bawah level 7.000 pada Kamis (30/4/2026) yang memicu kepanikan investor ritel muda akibat penurunan pasar sekitar 19 persen sepanjang tahun berjalan. Kondisi ini membuat investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp45,38 triliun hingga akhir April 2026.

Dilansir dari Market, saham-saham likuid di sektor perbankan, tambang, dan energi mengalami koreksi tajam. Bahkan, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyentuh level 5.850 yang merupakan titik terendah dalam satu tahun terakhir.

Ardi, seorang investor muda berusia 31 tahun, menceritakan pengalamannya saat menghadapi portofolio yang memerah akibat gejolak pasar global.

"Awalnya saya pikir investasi di perbankan itu bakal aman, ternyata tetap saja bikin panik," ujar Ardi bercerita.

Meskipun memiliki aset di sektor energi dan teknologi, Ardi mengaku tidak cukup kuat menahan badai pasar modal yang dipicu oleh pergeseran poros ekonomi dan konflik global.

"Ini namanya enggak rugi lagi, tapi sudah jadi donatur dan dermawan di pasar modal," ujar Ardi sambil tertawa kecil menyindir posisi portofolionya yang sudah rugi dalam.

Berbeda dengan Ardi, Putra yang berusia 36 tahun memilih strategi diversifikasi sejak dua tahun lalu guna meminimalisir dampak volatilitas pasar saham.

"Kalau semua ditaruh di saham, mental bisa habis duluan," ujar Putra sambil menyeruput kopi hitamnya.

Putra mengalokasikan dananya pada emas, reksa dana pasar uang untuk likuiditas, serta reksa dana saham untuk target jangka panjang.

"Makanya saya pecah risikonya," ujar Putra.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor pasar modal telah mencapai 26 juta single investor identification (SID) per April 2026 dengan mayoritas berusia di bawah 30 tahun.

Perencana keuangan independen, Mohamad Andoko, menekankan pentingnya analisis mendalam bagi investor muda untuk menghindari fenomena terjebak pada pola pikir ingin cepat kaya.

"Jangan FOMO. Pelajari produknya, analisa, analisa, dan analisa," kata Andoko saat berbincang dengan Bisnis.

Ia menegaskan bahwa faktor waktu merupakan elemen krusial dalam investasi melalui efek bunga majemuk bagi mereka yang baru memiliki penghasilan.

"Kalau sudah mulai punya penghasilan, misalnya usia 22–23 tahun, wajib mulai investasi. Rumus utama investasi itu waktu," ujarnya.

Andoko juga menyoroti bahwa 77 persen investor Indonesia saat ini lebih memilih instrumen pendapatan tetap dan pasar uang karena risiko yang lebih terkendali.

"Sekitar 77% investor Indonesia masih memilih fixed income dan money market karena tidak terlalu pusing, dikelola profesional," katanya.

Namun, ia tetap mengingatkan masyarakat untuk tetap selektif dalam memilih manajer investasi meskipun produk reksa dana dikelola secara profesional.

"Jangan sampai waktu habis, return jelek, waktu habis untuk menunggu," ujarnya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total dana kelolaan reksa dana mencapai Rp1.084 triliun per Maret 2026. Direktur Pengawasan dan Pengelolaan Investasi 1 OJK, Sujanto, menyebut potensi pertumbuhan masih terbuka lebar mengingat jumlah penduduk usia produktif Indonesia mencapai 196 juta jiwa.

"Jadi masih banyak ketimpangan, banyak yang sebenarnya masih bisa dikejar," ujar Sujanto dalam acara edukasi di Bursa Efek Indonesia, Senin (20/4/2026).

Sujanto menambahkan bahwa peluang untuk mengonversi kelompok produktif menjadi investor aktif masih sangat besar jika dibandingkan dengan angka investor saat ini.

"Artinya kalau dibandingkan dengan yang 23 juta investor tadi, peluang kita mengejar kelompok produktif menjadi investor masih banyak sekali," tuturnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menegaskan bahwa peningkatan jumlah investor ritel harus dibarengi dengan kualitas literasi keuangan agar ekosistem pasar tetap kuat.

"Pendalaman pasar tidak hanya diukur dengan peningkatan angka jumlah investor, akan tetapi juga upaya memperkuat kualitas ekosistem pasar. Pelaku industri diharapkan terus berperan aktif sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat," kata Hasan.

OJK kemudian meluncurkan program Pintar Reksa Dana pada April 2026 untuk mendorong kebiasaan investasi terencana di masyarakat. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyebut program ini sebagai bagian dari reformasi sistemik.

"Program ini juga menjadi bagian dari reformasi sistemik untuk memperkuat peran pasar modal sebagai pilar pembiayaan jangka panjang bagi perekonomian nasional," kata Friderica.

Senada dengan OJK, Ketua Presidium APRDI, Lolita Liliana, berharap masyarakat mulai membangun budaya investasi sehat melalui instrumen yang terjangkau.

"Program Pintar Reksa Dana diharapkan dapat menggerakkan masyarakat agar mulai berinvestasi rutin dan terencana untuk mencapai tujuan keuangan masa depan," kata Lolita.

Hingga saat ini, industri reksa dana dinilai sebagai pintu masuk yang paling inklusif bagi pemula karena modal investasi dapat dimulai dari Rp10.000 saja.

Artikel terkait

Rekomendasi