IHSG Ditutup Merosot ke Level 5.342 Akibat Tekanan Jual Asing

IHSG Ditutup Merosot ke Level 5.342 Akibat Tekanan Jual Asing

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat koreksi signifikan pada penutupan perdagangan hari Senin, 8 Juni 2026. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detik Finance, indeks domestik berakhir di zona merah dengan penurunan sebesar 4,52 persen menuju level 5.342,14.

Kondisi pasar yang tertekan ini dipicu oleh aksi jual pada sejumlah saham dengan kapitalisasi besar. Penurunan saham-saham raksasa seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi beban utama pergerakan indeks.

Meskipun demikian, beberapa saham terpantau mengalami penguatan. Saham PT Surya Multi Investama Tbk (SMMA), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) mencatat kenaikan, namun belum cukup kuat untuk menahan laju pelemahan pasar secara keseluruhan.

Tekanan jual dari investor asing terpantau masih terus berlanjut di bursa domestik. Investor asing membukukan penjualan bersih atau net sell senilai Rp587,21 miliar di pasar reguler, serta mencapai Rp447,05 miliar di seluruh pasar.

Seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia berakhir di wilayah negatif pada perdagangan tersebut. Sektor industri mencatatkan penurunan paling dalam setelah terkoreksi hingga 6,39 persen pada akhir sesi.

Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat bergerak bervariasi. Indeks Dow Jones melemah 0,16 persen ke posisi 50.786, tetapi indeks S&P 500 dan Nasdaq berhasil menguat masing-masing sebesar 0,30 persen dan 0,86 persen.

Pelaku pasar dalam negeri juga mencermati pergerakan nilai tukar rupiah yang kembali melemah ke kisaran Rp18.177 per dolar AS. Ketidakpastian pasar keuangan global ini diperparah oleh meningkatnya ketegangan geopolitik yang terjadi antara Iran dan Israel.

Situasi tersebut berpotensi memicu keluarnya dana asing secara berkelanjutan dari pasar domestik. Sejalan dengan sentimen tersebut, ETF EIDO mencatat penurunan sebesar 3,83 persen, sementara indeks MSCI Indonesia melemah 5,77 persen.

Di tengah fluktuasi pasar, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mengumumkan rencana penambahan modal melalui mekanisme private placement. Emiten ini akan menerbitkan sebanyak 218,31 juta saham baru dengan harga pelaksanaan sebesar Rp1.550 per saham.

Melalui aksi korporasi tersebut, perseroan berpotensi meraih tambahan dana segar sekitar Rp338,38 miar. Seluruh saham baru ini akan diambil alih oleh pihak terafiliasi, yaitu Bakrie Kalila Investment (BKI).

Setelah proses private placement rampung, jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh milik ENRG akan bertambah menjadi 26,56 miliar saham dengan total modal disetor mencapai Rp6,95 triliun. Distribusi saham dijadwalkan pada 12 Juni 2026, sedangkan pengumuman hasil pelaksanaan akan dilakukan pada 18 Juni 2026.

Ekspansi Sumber Daya Merdeka Gold

PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA) mempublikasikan maiden Mineral Resource Estimate (MRE) untuk Prospek Kolokoa. Berdasarkan estimasi per 1 Juni 2026, area tersebut memiliki sumber daya mineral sebesar 42 juta ton dengan kadar rata-rata 0,33 gram emas per ton, atau setara dengan 445 ribu ons emas.

Penemuan baru ini meningkatkan total inventaris sumber daya mineral di Tambang Emas Pani sebesar 6,35 persen menjadi 7,40 juta ons emas. Pengujian metalurgi awal menunjukkan material oksida meraih tingkat pemulihan berkisar 87 persen hingga 94 persen, sedangkan material transisi berada di angka 81 persen hingga 92 persen.

Pembagian Dividen Telkom Indonesia

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) resmi memutuskan pembagian dividen tunai sebesar Rp221,08 per saham untuk tahun buku 2025. Total dividen yang dikucurkan mencapai Rp21,90 triliun dan telah disetujui dalam RUPST pada 8 Juni 2026.

Alokasi dividen tersebut terdiri atas Rp17,80 triliun dari laba bersih tahun buku 2025 dan Rp4,20 triliun dari saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya. Sepanjang tahun 2025, TLKM mengantongi pendapatan Rp146,74 triliun, atau turun 2,15 persen secara tahunan. Laba bersih perseroan juga terkoreksi menjadi Rp17,80 triliun dari Rp22,40 triliun pada tahun 2024.

Dengan harga penutupan saham TLKM di level Rp2.350 per saham pada 8 Juni 2026, maka imbal hasil dividen yang diberikan tercatat sekitar 9,41 persen. Manajemen menjadwalkan pembayaran dividen kepada pemegang saham paling lambat pada 10 Juli 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi