Pasar saham domestik mengalami tekanan hebat yang memicu kemerosotan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kondisi ini diperparah oleh aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing yang mencapai Rp463,74 miliar berdasarkan data perdagangan terbaru, seperti dikutip dari Investasi.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa pelemahan IHSG ini berjalan searah dengan tekanan yang melanda mayoritas bursa global dan kawasan Asia.
Sentimen negatif di pasar modal semakin kuat akibat nilai tukar rupiah yang terus tertekan. Saat ini, posisi mata uang garuda berada di kisaran Rp17.681 per dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Herditya, faktor utama yang membebani pergerakan pasar saham adalah ketidakpastian global. Hal ini terutama dipicu oleh eskalasi tensi geopolitik yang mendongkrak harga minyak mentah dunia hingga kembali melewati level US$100 per barel.
"Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi dan perlambatan ekonomi global," ujar Herditya, Senin (18/5/2026).
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menambahkan bahwa pelemahan rupiah yang terus berlanjut memperbesar tekanan pada IHSG. Situasi ini diperberat oleh minimnya sentimen positif dari dalam negeri.
Alrich menilai depresiasi rupiah memicu spekulasi terkait kebijakan moneter. Bank Indonesia (BI) diperkirakan berpotensi menaikkan suku bunga acuan dalam rapat kebijakan pekan ini demi menjaga stabilitas nilai tukar.
"Tekanan terhadap rupiah ini mendorong munculnya perkiraan bahwa BI berpeluang menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan pekan ini," kata Alrich.
Sementara itu, Founder Republik Investor Hendra Wardana melihat situasi ini sebagai tanda krisis kepercayaan yang serius dari para pemodal. Derasnya arus keluar dana asing membuat IHSG kian terpuruk.
"Kejatuhan IHSG hingga ke level 6.599 bukan cuma koreksi biasa, tapi cerminan bahwa pasar sedang memasuki fase krisis kepercayaan yang cukup serius," ujar Hendra.
Meskipun secara teknikal posisi IHSG sudah berada di area jenuh jual (oversold), Hendra menilai potensi penguatan masih sangat rapuh. Penyebabnya adalah sentimen utama yang menekan pasar belum mereda.
Rebound jangka pendek diperkirakan tetap bisa terjadi karena penurunan indeks sudah terlampau dalam. Namun, penguatan tersebut berisiko menjadi dead cat bounce jika tekanan global dan capital outflow asing tidak berhenti.
Untuk perdagangan Selasa (19/5), Hendra memproyeksikan IHSG akan bergerak pada rentang support 6.398 dan resistance 6.600.
Di sisi lain, Herditya memperkirakan IHSG memiliki peluang untuk mengalami technical rebound. Ia menetapkan level support di rentang 6.492 dan resistance pada posisi 6.705.
Herditya merekomendasikan beberapa saham yang dinilai menarik untuk dicermati oleh para pelaku pasar dalam situasi ini. Saham-saham tersebut adalah PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP).