IHSG Merosot Empat Persen Akibat Tekanan Sentimen Global dan Domestik

IHSG Merosot Empat Persen Akibat Tekanan Sentimen Global dan Domestik

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan pagi hari Senin (18/5/2026) dengan pelemahan mendalam hingga lebih dari 4 persen akibat perpaduan faktor eksternal dan internal, seperti dilansir dari Money.

Pelemahan indeks bursa domestik tersebut menguat di sesi pertama perdagangan, di mana IHSG menutup sesi di level 6.470,34 atau merosot sebesar 3,76 persen setara 252 poin dibandingkan posisi pembukaannya.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks dibuka di posisi 6.628,976 dan sempat menyentuh area tertinggi harian di 6.631,282 sebelum akhirnya tekanan jual mendominasi hingga indeks menyentuh angka terendah di 6.398,786.

Pantauan pada pukul 11.22 WIB menunjukkan bursa saham domestik tersebut anjlok sebesar 292,363 poin atau sekitar 4,35 persen menuju ke level 6.430,956.

Pengamat pasar modal Reydi Octa memberikan penjelasan mengenai situasi gejolak bursa domestik yang dipicu oleh kombinasi sentimen global dan pasar dalam negeri.

"Pelemahan IHSG hingga lebih dari 4 persen pagi ini dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik," ujar Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal.

Ia memaparkan beberapa faktor utama penggerak kemerosotan indeks bursa, mulai dari aksi lepas saham oleh investor internasional hingga fluktuasi nilai tukar yang menekan pasar.

"Tekanan datang dari masih tingginya aksi jual asing, kekhawatiran terhadap arus keluar dana dari emerging market, serta sentimen risk-off akibat ketidakpastian global, melemahnya rupiah terhadap dollar AS dan isu pasar domestik terkait likuiditas serta saham-saham dengan kategori HSC," kata Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal.

Penurunan tajam tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terkait potensi trading halt atau penghentian perdagangan sementara waktu, meski skenario itu dinilai minim terjadi.

"Potensi trading halt tetap ada apabila tekanan jual semakin dalam dan IHSG menyentuh batas auto rejection bawah secara luas, tapi kemungkinannya kecil," ucap Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal.

Terkait situasi pasar yang bergerak fluktuatif ini, para investor diimbau agar tetap tenang dan menghindari pengambilan keputusan investasi secara impulsif.

"Dalam kondisi seperti ini investor sebaiknya tidak panik melakukan panic selling," tutur Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal.

Langkah antisipasi yang disarankan bagi pelaku pasar adalah menyusun ulang strategi investasi dengan memprioritaskan ketersediaan dana segar serta beralih ke saham-saham solid.

"Fokus utama adalah menjaga cash flow dan memilih saham dengan fundamental kuat, likuiditas besar, serta memiliki daya tahan terhadap gejolak global seperti sektor perbankan besar, energi, dan saham defensif," tutup Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal.

Artikel terkait

Rekomendasi