Pasar saham Indonesia mengalami tekanan besar pada akhir perdagangan sesi I, Senin (18/5/2026). Dilansir dari Suara, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG merosot tajam sebesar 3,76 persen atau berkurang 252,971 poin ke level 6.470,348.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran di kalangan investor ritel setelah indeks sempat menyentuh titik terendah di posisi 6.441. Penurunan yang signifikan ini memunculkan pertanyaan mengenai potensi pengaktifan sistem kedaruratan bursa.
Otoritas pasar modal memiliki mekanisme penyelamatan yang disebut trading halt untuk menghentikan perdagangan sementara waktu. Dikutip dari Treasury.id, kebijakan ini berfungsi sebagai rem darurat saat pasar mengalami tekanan jual masif akibat kepanikan tidak rasional.
Bursa Efek Indonesia atau BEI menerapkan aturan ketat terkait penurunan indeks sebelum menghentikan aktivitas transaksi. Perdagangan saham hari ini tetap berjalan normal karena koreksi belum mencapai batas minimal protokol krisis.
BEI menetapkan empat tahapan penting dalam mengaktifkan pembekuan transaksi harian:
- Penurunan 5 persen: Perdagangan akan dibekukan sementara selama 30 menit.
- Penurunan 10 persen: Jika koreksi berlanjut setelah pembukaan, suspensi kembali dilakukan selama 30 menit.
- Penurunan 15 persen: Seluruh aktivitas perdagangan saham dihentikan penuh hingga akhir sesi hari tersebut.
Sistem transaksi tetap berjalan biasa karena angka penurunan sesi pertama berada di posisi 3,76 persen. Batas psikologis serta regulasi penurunan 5 persen dari otoritas belum terlampaui.
Faktor Penyebab dan Strategi Menghadapi Fluktuasi Pasar
Penghentian transaksi sementara tidak hanya dipicu oleh penurunan indeks gabungan secara ekstrem. Mekanisme ini juga berlaku untuk instrumen spesifik akibat rilis berita material mendadak, gangguan teknis pada server bursa, atau indikasi manipulasi harga.
Saat bursa saham dilanda ketidakpastian tinggi, aliran dana dari investor institusi biasanya berpindah ke instrumen pelindung nilai. Aset safe haven seperti emas sering kali menjadi pilihan utama dan mengalami lonjakan harga di tengah koreksi pasar modal.
Menghadapi situasi pasar yang memerah, pelaku pasar disarankan untuk menghindari aksi panic selling. Langkah antisipasi dapat dilakukan dengan menyiapkan uang tunai untuk membeli saham fundamental bagus di harga rendah serta melakukan diversifikasi portofolio ke instrumen emas.