Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles sebesar 2,76 persen ke posisi 6.144,35 pada penutupan perdagangan sesi pertama, Kamis (21/5/2026). Penurunan tajam ini terjadi akibat sentimen domestik dan berlanjutnya aksi jual bersih oleh investor asing.
Kondisi pasar modal di Indonesia berbanding terbalik dengan situasi di regional. Dilansir dari Investasi berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, sejumlah bursa saham di Asia justru bergerak menguat, seperti indeks KOSPI Korea Selatan yang melonjak di atas 6 persen dan Nikkei Jepang yang naik lebih dari 3 persen.
Analis Elandry menjelaskan bahwa pergerakan indeks domestik saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor dalam negeri daripada global. Investor tengah mencermati isu fiskal, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga arah kebijakan ekonomi dari pemerintahan baru.
Sentimen negatif tersebut diperparah oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi peningkatan intervensi negara pada beberapa sektor strategis. Dampaknya, saham-saham berkapitalisasi besar mendapatkan tekanan jual yang masif dari investor asing yang memilih keluar dari pasar.
Secara teknikal, area 6.000 hingga 6.200 dinilai menjadi level realistis bagi pergerakan indeks saat ini. Penurunan valuasi tersebut dipicu oleh repricing akibat kenaikan risk premium Indonesia serta koreksi pada saham sektor perbankan besar.
"Namun kalau melihat kondisi sekarang, menurut saya peluang IHSG turun jebol di level tersebut masih sangat mungkin, terutama karena tekanan nilai tukar rupiah yang belum stabil," kata Elandry.
Elandry menambahkan bahwa pelaku pasar luar negeri sangat sensitif terhadap fluktuasi mata uang. Ketika nilai tukar rupiah melemah, risiko kerugian kurs otomatis meningkat sehingga membuat investor asing memilih untuk bersikap wait and see.
"Namun jika rupiah stabil dan arus asing mulai kembali masuk, koreksi bisa lebih terbatas," ucap Elandry.
Untuk mengantisipasi situasi ini, para pemodal disarankan agar lebih selektif dengan berfokus pada saham fundamental kuat, arus kas stabil, serta menghindari emiten yang memiliki leverage tinggi. Beberapa saham pilihan jangka menengah yang dapat dicermati antara lain BBCA dengan target harga Rp 7.000, BBRI sebesar Rp 4.000, dan TLKM di level Rp 3.500 per saham.