Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam sebesar 3,l3bih% atau berkurang 200 poin ke level 6.398,78 menjelang akhir sesi I perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (19/5/2026). Penurunan signifikan ini dipicu oleh sentimen negatif penghapusan sejumlah saham dari indeks global serta pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis baru.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 569 saham mengalami penurunan, 134 saham menguat, dan 110 saham bergerak stagnan. Aktivitas pasar terpantau ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp 13,85 triliun yang melibatkan 24,77 miliar saham dalam 1,6 juta kali transaksi. Koreksi tajam ini memperpanjang tren negatif dari hari perdagangan sebelumnya yang sempat anjlok hingga 4% sebelum ditutup melemah 1,85%.
Berdasarkan data Refinitiv, hampir seluruh sektor saham berada di zona merah dengan sektor bahan baku mencatatkan penurunan terdalam sebesar -7,4%. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) merosot 15% menjadi beban utama indeks dengan bobot -11,16 poin, diikuti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar -10,94 poin, PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) sebesar -8,97 poin, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar -7,5 poin.
Tekanan berat terhadap bursa domestik terjadi setelah tiga dari empat emiten tersebut dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index. Kondisi ini diperparah oleh pengumuman FTSE Russell terkait potensi penghapusan saham-saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) di Bursa Efek Indonesia.
Dalam dokumen terbaru bertajuk "Index Treatment for the June 2026 Index Review" yang dirilis Rabu (13/5/2026), penyedia indeks global tersebut memberikan peringatan keras mengenai likuiditas saham emiten yang dikuasai segelintir pihak.
"Untuk memastikan integritas dan replikabilitas indeks, FTSE Russell akan menghapus sekuritas yang terdampak pada harga nol pada tinjauan Juni 2026, efektif mulai pembukaan pasar pada Senin, 22 Juni 2026," tulis pengumuman resmi tersebut.
Kebijakan penalti harga nol tersebut diambil karena FTSE menilai likuiditas saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi cenderung memburuk secara material sehingga menyulitkan investor institusi pengelola dana indeks untuk keluar dari saham tersebut secara mendadak. Di sisi lain, nilai tukar rupiah terpantau melemah 0,34% ke level Rp17.700/US$ pada pukul 09.13 WIB, meskipun indeks dolar AS (DXY) mengalami penurunan sebesar 0,11% ke posisi 99,094.