IHSG Merosot 1,98 Persen Akibat Tekanan Geopolitik Selat Hormuz

IHSG Merosot 1,98 Persen Akibat Tekanan Geopolitik Selat Hormuz

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan sebesar 1,98 persen pada pekan lalu akibat ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang memicu kepanikan pasar global. Fenomena ini diiringi aksi jual bersih oleh investor asing yang mencapai Rp1,35 triliun pada sektor saham perbankan domestik.

Pelepasan aset oleh pemodal internasional tersebut berfokus pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBRI, BMRI, dan BBCA, serta emiten komoditas AMMN dan ANTM. Kondisi pasar domestik semakin tertekan oleh pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dan perilaku defensif pelaku pasar, sebagaimana dilansir dari Suara.

Sentimen negatif ini dipicu oleh anjloknya bursa saham Wall Street di Amerika Serikat pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Indeks Dow Jones merosot 1,07 persen, S&P 500 melemah 1,24 persen, dan Nasdaq terkoreksi tajam hingga 1,54 persen akibat pernyataan keras dari Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.

Kekhawatiran mengenai gangguan pasokan minyak global dan lonjakan inflasi baru akibat situasi Selat Hormuz tersebut kemudian menjalar ke bursa Asia pada hari Jumat lalu. Indeks Kospi Korea Selatan jatuh lebih dari 6 persen dengan penurunan saham Samsung Electronics sebesar 8,6 persen, sementara Nikkei 225 Jepang tergelincir 1,99 persen dan Hang Seng Hong Kong melemah 1,62 persen.

Meskipun demikian, ketegangan sedikit mereda setelah Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping mencapai kesepahaman untuk menolak kepemilikan senjata nuklir oleh Iran serta menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Untuk pasar domestik, Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memproyeksikan pergerakan indeks masih berpotensi melanjutkan koreksi.

BNI Sekuritas menyarankan investor mencermati level Support di rentang 6500-6600 dan posisi Resist di area 6780-6850. Sektor energi dan logistik komoditas seperti saham ADRO, AKRA, ENRG, ITMG, MEDC, dan SMDR dinilai berpotensi menjadi tempat berlindung sementara karena diuntungkan oleh kenaikan harga minyak global.

Artikel terkait

Rekomendasi