Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 4,52 persen ke level 5.342,14 pada penutupan perdagangan Senin (8/6/2026) akibat paparan sentimen negatif berlapis. Kejatuhan indeks saham domestik ini diiringi aksi jual bersih oleh investor asing di seluruh pasar yang mencapai nilai Rp 447,05 miliar.
Pelemahan pasar modal dipicu oleh kurs rupiah yang menembus di atas Rp 18.000 per dolar AS dan inflasi Mei sebesar 3,08 persen, dilansir dari Investasi. Faktor lain berupa rebalancing FTSE Russell serta keluarnya dana pensiun Eropa secara sistematis setelah PT Danantara Investment Management mendapat peringkat Baa2 dari Moody’s dengan outlook negatif.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menjabarkan bahwa yield dividen emiten saat ini tidak sebanding dengan kerugian kapital investor yang mencapai 30 persen sepanjang tahun. Berdasarkan fibonacci retracement, level support kritis IHSG berada di kisaran 5.200 hingga 5.300, dan berpotensi turun ke 4.800 sampai 5.000 jika Indonesia turun peringkat menjadi frontier market oleh MSCI.
“Probabilitas IHSG untuk menembus level 5.200 sekitar 30%–35%. Paradoksnya, jika itu terjadi, maka level di bawah 5.000 justru adalah capitulation point dan generational buying opportunity,” ungkap Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI).
Dukungan domestik dari investor institusi lokal seperti BPJS, fund manager, dan ritel diperkirakan mampu menopang IHSG pada kisaran 5.000 hingga 5.500 karena kinerja laba emiten yang masih tumbuh positif.
Sentimen eksternal berupa ketegangan geopolitik Timur Tengah dan suku bunga The Fed yang tinggi turut membebani pasar saham. Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menambahkan bahwa penurunan cadangan devisa selama lima bulan berturut-turut dan kekhawatiran fiskal dalam negeri membuat investor lebih fokus pada stabilitas makroekonomi.
“Namun apabila sentimen negatif masih berlanjut, tidak menutup kemungkinan volatilitas pasar akan tetap tinggi dalam jangka pendek,” imbuh Reza Diofanda, Analis BRI Danareksa Sekuritas.
Investor domestik saat ini mendominasi perdagangan dengan porsi 64,55 persen dari nilai transaksi, tetapi investor asing tetap menjadi penyedia likuiditas utama saham berkapitalisasi besar. Reza menyarankan investor jangka panjang untuk mencermati area support mayor di kisaran 5.040 hingga 4.800 untuk melakukan akumulasi bertahap.
“Sementara itu, investor jangka pendek sebaiknya menunggu konfirmasi stabilisasi pasar dan meredanya tekanan jual asing sebelum meningkatkan eksposur secara agresif,” pungkas Reza Diofanda, Analis BRI Danareksa Sekuritas.