Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis 0,18 persen secara mingguan meski ditutup merosot 2,86 persen ke level 6.969,40 pada Jumat (8/5). Pergerakan indeks pekan ini diprediksi akan dibayangi oleh agenda rebalancing indeks MSCI dan rencana revisi tarif royalti mineral.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini sedang melaksanakan uji publik terkait revisi PP Nomor 19 Tahun 2025. Kebijakan ini menyasar penyesuaian tarif royalti untuk komoditas strategis seperti emas, tembaga, nikel, timah, dan perak akibat lonjakan Harga Mineral Acuan (HMA).
Data pasar menunjukkan harga perak melonjak 107,4 persen menjadi US$79,27 per troy ons dan timah naik 48,8 persen menjadi US$51.101 per ton. Sementara itu, harga emas meningkat 40,6 persen ke level US$4.746 per troy ons, diikuti kenaikan tembaga 29 persen dan nikel 10,8 persen.
| Komoditas | Tarif Lama | Usulan Tarif Baru |
|---|---|---|
| Tembaga | 4% - 7% | 7% - 10% |
| Emas | 7% - 16% | 14% - 20% |
| Perak | 5% | 6% - 8% |
| Timah | 3% - 10% | 5% - 12,5% |
Pemerintah juga mengusulkan penyesuaian interval harga dan jumlah bracket untuk komoditas nikel, meskipun tarif dasarnya tidak berubah. Selain itu, terdapat rencana penambahan iuran tetap untuk Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB) di wilayah di atas 12 mil laut.
Di sektor korporasi, Pacific Universal Investments yang merupakan afiliasi CVC Capital Partners resmi mengambil alih 51 persen saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Transaksi senilai Rp11,81 triliun atau Rp1.395 per saham tersebut diselesaikan pada 8 Mei.
Pengendali baru tersebut berencana melaksanakan penawaran tender wajib melalui Ocean Continuum dan Samudra Investment dengan harga Rp1.550 per saham. MAPI saat ini mengelola lebih dari 150 merek global dengan jaringan lebih dari 4.000 gerai di berbagai wilayah Indonesia.
Sementara itu, emiten logistik BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) karena kepemilikan terpusat mencapai 95,82 persen. WBSA menyusul emiten lain seperti BREN dan DSSA yang telah lebih dulu masuk dalam pengawasan volatilitas tersebut.
Bursa Efek Indonesia juga bersiap menghadapi siklus rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026. Langkah ini mengikuti pengumuman resmi MSCI pada April lalu yang merespons inisiatif transparansi pasar modal dari OJK, BEI, dan KSEI.