Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan ketangguhan yang signifikan pada pertengahan Mei 2026. Berdasarkan laporan yang dikutip dari Suara, indeks kebanggaan Indonesia ini berhasil bertahan di zona hijau dan parkir pada level 6.969.
Kondisi ini tergolong menarik karena terjadi di tengah tekanan aksi jual bersih atau net sell yang dilakukan investor asing sepanjang tahun berjalan. Penguatan tersebut mencerminkan solidnya kepercayaan investor domestik dalam menopang pergerakan pasar modal nasional.
Data perdagangan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan adanya lonjakan likuiditas yang luar biasa. Gairah pasar terpantau meningkat tajam, baik dari sisi volume perdagangan maupun nilai transaksi harian yang melampaui capaian pekan-pekan sebelumnya.
Hingga saat ini, arus modal keluar dari pihak asing masih menjadi sorotan utama otoritas bursa. Meskipun sempat terjadi aksi beli di akhir pekan, secara akumulatif angka modal yang keluar masih mendominasi neraca perdagangan tahun 2026.
P.H. Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia, Aulia Noviana Utami Putri, memberikan penjelasan mendalam mengenai posisi pemodal mancanegara tersebut. Ia mencatat adanya rentang yang lebar antara transaksi beli dan jual sejak awal tahun.
"Menutup pekan ini, pergerakan investor asing di pasar modal Indonesia mencatatkan nilai beli bersih (net buy) yang cukup besar, yakni Rp11,42 triliun pada hari ini. Kendati demikian, jika ditarik sepanjang tahun 2026 berjalan, investor asing masih mencatatkan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp37,61 triliun," kata Aulia Noviana Utami Putri.
Munculnya aksi beli bersih senilai Rp11,42 triliun di penghujung pekan memberikan optimisme baru bagi pasar. Langkah ini dianggap sebagai sinyal kembalinya minat asing terhadap saham-saham blue chip yang memiliki fundamental bisnis kokoh.
Salah satu parameter paling menonjol dari performa bursa pekan ini adalah meroketnya aktivitas transaksi harian. Hal ini mengindikasikan pasar yang sangat cair dengan partisipasi aktif dari investor institusi maupun ritel.
Peningkatan paling tajam terlihat pada rata-rata nilai transaksi harian yang tumbuh hingga dua digit. Fenomena ini menjadi bukti bahwa pasar saham Indonesia tetap menjadi pilihan utama investasi meski kondisi ekonomi global masih dinamis.
"Angka tersebut naik menjadi Rp23,06 triliun dari Rp18,27 triliun pada pekan sebelumnya, yang menunjukkan tingginya likuiditas dan kepercayaan pasar di tengah dinamika ekonomi," ujar Aulia.
Selain nilai transaksi, rata-rata volume perdagangan harian di BEI juga melesat 23,57 persen. Saat ini volume perdagangan menyentuh angka 45,86 miliar lembar saham, naik dari posisi 37,11 miliar lembar pada pekan lalu.
Frekuensi transaksi harian pun mengalami kenaikan sebesar 9 persen menjadi 2,55 juta kali. Intensitas perdagangan yang tinggi ini secara otomatis mendongkrak nilai kapitalisasi pasar BEI sebesar 0,19 persen.
Total kapitalisasi pasar kini mencapai angka Rp12.406 triliun, meningkat dari posisi Rp12.382 triliun pada akhir pekan sebelumnya. Stabilitas IHSG di atas level psikologis 6.900 memberikan ketenangan bagi para pelaku pasar.
"Secara kumulatif, IHSG selama sepekan mengalami penguatan sebesar 0,18 persen dan resmi ditutup pada level 6.969,396 dari posisi 6.956,804 pada pekan lalu. Penutupan yang stabil ini menjadi sinyal positif bagi para pelaku pasar modal," kata Aulia.
Para pengamat menilai posisi IHSG saat ini menjadi landasan kuat bagi indeks untuk menguji level resisten selanjutnya di masa mendatang.