IHSG Berpotensi Terkoreksi Akibat Tekanan Global dan Aksi Jual Asing

IHSG Berpotensi Terkoreksi Akibat Tekanan Global dan Aksi Jual Asing

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi mengalami koreksi pada perdagangan Selasa (5/5/2026) setelah dibayangi sentimen negatif pasar global dan aksi jual bersih investor asing. Dilansir dari Suara, tekanan muncul meski indeks sempat menguat tipis 0,22 persen pada penutupan sebelumnya di tengah pelepasan aset besar-besaran.

Data perdagangan menunjukkan investor asing mencatatkan net sell senilai kurang lebih Rp791 miliar. Aksi jual tersebut menyasar sejumlah saham penggerak pasar utama, di antaranya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), hingga PT Astra International Tbk (ASII).

Analisis teknikal menunjukkan posisi indeks saat ini masih sangat rentan terhadap penurunan lebih lanjut. Para pelaku pasar diminta mewaspadai level dukungan (support) pada rentang 6.850 hingga 6.900, sementara level hambatan (resisten) diperkirakan berada di posisi 7.000 sampai 7.090.

Pelemahan di bursa domestik ini berkorelasi dengan kondisi Wall Street yang memerah pada Senin (4/5) malam waktu setempat. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 1,13 persen, S&P 500 melemah 0,41 persen, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,19 persen akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Konflik tersebut dipicu laporan Uni Emirat Arab mengenai pencegatan rudal dari Iran serta klaim militer Iran yang menghalau kapal perang di wilayah Pulau Jask. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran global terhadap stabilitas kawasan dan potensi kenaikan harga minyak dunia yang menekan minat risiko investor.

Kondisi berbeda justru terlihat pada mayoritas bursa di Asia yang mencatatkan pertumbuhan signifikan. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak hingga 5,12 persen mencapai rekor baru, diikuti oleh kenaikan Taiex Taiwan sebesar 4,57 persen dan penguatan Hang Seng sebesar 1,24 persen.

Dari sisi domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan angka inflasi April 2026 sebesar 0,13 persen secara bulanan (MoM). Secara tahun kalender, inflasi tercatat berada di angka 1,06 persen dengan sektor transportasi menjadi kontributor utama kenaikan harga sebesar 0,99 persen.

BPS juga mencatat kinerja positif pada neraca perdagangan Indonesia periode Maret 2026 yang membukukan surplus sebesar 3,32 miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan peningkatan tajam dibandingkan dengan capaian surplus pada bulan sebelumnya.

Terkait fluktuasi harga komoditas energi, BNI Sekuritas memberikan rekomendasi sejumlah saham untuk dicermati investor pada hari ini. Fokus utama diarahkan pada sektor energi melalui beberapa emiten pilihan yang memiliki potensi pergerakan berdasarkan analisis harga komoditas.

Ide Trading Saham 5 Mei 2026
EmitenRekomendasiArea BeliTarget Harga
AKRABuy on Weakness1.530 - 1.5501.600 - 1.660
MEDCBuy on Weakness1.685 - 1.7201.770 - 1.820
ENRGSpec Buy1.680 - 1.7101.735 - 1.760
INDYSpec Buy3.650 - 3.7003.720 - 3.770
BULLBuy on Weakness490 - 505520 - 535
CDIABuy on Weakness1.000 - 1.0501.070 - 1.100
PGASPantauan1.830 - 1.8501.920 - 1.970
PTBAPantauan2.900 - 2.9502.970 - 3.020

Investor juga diingatkan untuk tetap waspada terhadap tingginya volatilitas pada saham-saham berkapitalisasi kecil (small cap) seperti PADI. Penerapan disiplin batasan stop loss menjadi langkah krusial dalam mengelola risiko di tengah ketidakpastian pasar global saat ini.

Artikel terkait

Rekomendasi