IHSG Berpotensi Tertekan Akibat Sentimen Eksternal dan Aksi Jual Asing

IHSG Berpotensi Tertekan Akibat Sentimen Eksternal dan Aksi Jual Asing

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih mengalami tekanan pada perdagangan Senin (18/5/2026) akibat peningkatan sentimen eksternal serta aksi jual oleh investor asing di pasar domestik, seperti dilansir dari Money.

Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa pasar saham di awal pekan ini masih dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang meningkatkan ketidakpastian keuangan global.

Kondisi pasar juga dibayangi oleh potensi capital outflow serta tekanan jual akibat rebalancing indeks global dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang sudah dirilis pada Rabu (13/5/2026).

Selain itu, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut menjadi perhatian karena pelemahannya dapat meningkatkan kekhawatiran terkait stabilitas keuangan domestik.

“Untuk Senin kami perkirakan IHSG masih rawan melanjutkan koreksinya dengan support 6.682 and resist 6.789. Untuk sentimen sendiri kami perkirakan investor masih mencermati akan perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, tekanan jual dan outflow dari IHSG mengenai rebalancing MSCI, investor masih akan mencermati akan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS),” ujar Herditya Wicaksana, Analis Teknikal MNC Sekuritas.

Herditya memproyeksikan beberapa saham untuk dicermati investor ritel, seperti PT Darma Henwa Tbk (DEWA) pada kisaran Rp 540 hingga Rp 595, PT Indika Energy Tbk (INDY) di area Rp 3.160 sampai Rp 3.440, dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) pada rentang Rp 2.460 hingga Rp 2.710.

Sementara itu, Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai IHSG berpotensi menguji area support psikologis 6.700 hingga 6.585 jika tekanan global belum mereda, namun peluang rebound tetap terbuka jika tensi geopolitik membaik.

“Pasar saat ini cenderung menunggu kepastian arah rupiah, kebijakan suku bunga global, stabilitas harga energi, serta kembalinya aliran dana asing sebelum kembali bergerak lebih agresif,” ucap Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor.

Hendra menambahkan bahwa fase ini merupakan periode konsolidasi dan penyesuaian valuasi, di mana saham defensif berbasis domestik seperti consumer staples, telekomunikasi, healthcare, serta saham dividen tinggi dan komoditas tertentu cenderung lebih diuntungkan.

Faktor eksternal seperti inflasi Amerika Serikat yang tinggi membuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed mundur, sehingga dolar AS kuat dan memicu aliran dana keluar dari emerging markets menuju safe haven.

Tensi geopolitik Timur Tengah juga membuat harga minyak melonjak mendekati 100 dollar AS per barrel, yang sensitif bagi Indonesia karena meningkatkan risiko imported inflation, pelebaran defisit transaksi berjalan, dan tekanan APBN saat rupiah melemah ke Rp17.600 per dolar AS.

“Tekanan IHSG saat ini sejatinya bukan hanya berasal dari MSCI semata. Faktor eksternal global justru menjadi tekanan yang jauh lebih besar terhadap psikologi investor,” tukas Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor.

Di sisi lain, Retail Research & Investment Bahana Sekuritas, Dimas Wahyu Putra Pratama, merekomendasikan strategi accumulate buy untuk saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) di harga Rp 1.570 dengan target jangka pendek Rp 1.635 dan target lanjutan Rp 1.665.

Bahana Sekuritas juga merekomendasikan saham PT Elnusa Tbk (ELSA) di Rp 700 dengan target Rp 745 dan Rp 760, serta PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) di Rp 5.700 dengan target Rp 6.000 dan Rp 6.300.

Saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang berada di posisi Rp 1.455 turut direkomendasikan accumulate buy dengan proyeksi target harga pertama di Rp 1.490 dan target harga kedua di Rp 1.520 per saham.

Artikel terkait

Rekomendasi