IHSG dan Rupiah Anjlok Menkeu Siapkan Intervensi Pasar Obligasi

IHSG dan Rupiah Anjlok Menkeu Siapkan Intervensi Pasar Obligasi

Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan besar setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah anjlok tajam secara bersamaan pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026 akibat sentimen negatif jangka pendek global.

Data perdagangan intraday pukul 10.29 WIB menunjukkan IHSG merosot 4,18 persen ke level 6.442 setelah dibuka melemah di posisi 6.447,97, sementara data harianbasis.co mencatat indeks sempat menyentuh level 6.400 pada siang hari. Penurunan ini memicu penyusutan kapitalisasi pasar saham Indonesia hingga Rp11.312 triliun, atau menguap sebesar Rp5.278 triliun sejak mencapai level tertinggi pada Januari 2026.

Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah melemah hingga 1,15 persen dan sempat menembus level Rp17.660 per dolar AS berdasarkan data Refinitiv. Selain sentimen global, data TradingView menunjukkan pelemahan dipicu kekhawatiran eskalasi konflik Timur Tengah, potensi syok pasokan minyak, serta pelemahan aktivitas ekonomi China pada April.

Penurunan indeks domestik ini turut dipengaruhi oleh aksi rebalancing indeks MSCI minggu lalu yang mendepak 18 saham Indonesia, serta rontoknya indeks Wall Street. Di pasar domestik, sejumlah saham berkapitalisasi besar mencatat kerugian signifikan, seperti PT Amman Mineral Intl. yang merosot 12,7 persen, Aneka Tambang drop 7,4 persen, Indosat turun 6,3 persen, dan Vale Indonesia melemah 5,1 persen.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi pelemahan ini secara tenang dan menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional saat ini masih sangat kokoh.

"Nggak apa-apa, nanti kita perbaiki. Kan pondasi ekonominya kan bagus, itu masalah sentimen jangka pendek aja. Jadi, saya akan fokus jaga pondasi ekonomi dengan memastikan pembangunan ekonomi tidak terganggu," beber Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Menkeu menepis kekhawatiran masyarakat bahwa Indonesia akan kembali menghadapi krisis moneter seperti tahun 1998, mengingat kondisi kebijakan dan laju pertumbuhan saat ini jauh berbeda.

"Oh ini kan banyak sentimen. Kalau rupiah melemah seolah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda 1998 itu kebijakannya salah," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Kementerian Keuangan langsung bersiap mengambil tindakan nyata dengan mengintensifkan langkah stabilisasi guna menahan arus keluar modal asing dari pasar surat utang domestik.

"Gak apa-apa nanti kita perbaiki. Sekarang pondasi ekonominya bagus itu masalah sentimen jangka pendek," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Purbaya menekankan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga roda perekonomian nasional agar tidak terhambat oleh gejolak pasar keuangan global.

"Saya fokus jaga pondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu," jelas Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Intervensi di pasar obligasi yang sebelumnya dilakukan dalam skala kecil kini akan ditingkatkan secara signifikan demi mengendalikan volatilitas modal.

"Kita sudah masuk tapi hanya sedikit, mulai hari ini kita akan masuk lebih signifikan lagi sehingga pasar obligasi terkendali," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Langkah masif tersebut diharapkan mampu memitigasi ketakutan investor asing terhadap risiko capital loss akibat penurunan harga obligasi.

"Sehingga asing yang pegang obligasi nggak keluar karena takut misalnya ada capital loss karena harga obligasi turun. Itu akan bisa membantu pergerakan rupiah sedikit," papar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Menkeu juga menambahkan bahwa situasi saat ini terhindar dari resesi karena ekonomi domestik masih tumbuh kencang, sehingga ruang perbaikan masih terbuka lebar.

"Kita kan sekarang belum resesi. Ekonomi masih tumbuh kencang, jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semua," beber Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Purbaya justru melihat koreksi harga saham ini sebagai momentum emas bagi para pelaku pasar modal untuk melakukan akumulasi aset.

"Jadi, teman-teman nggak usah khawatir, investor pasar saham kalau saya bilang jangan takut serok ke bawah sekarang. Jadi, jangan lupa beli saham," pungkas Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Imbauan agar tidak panik sebelumnya juga telah diserukan oleh Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk pada Sabtu, 16 Mei 2026.

"Selama Purbaya (Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa) bisa senyum, tenang saja tidak usah khawatir. Mau dolar berapa ribu (rupiah) kek, kalian di desa-desa tidak pakai dolar," kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan keyakinannya terhadap ketahanan ekonomi nasional yang bertumpu pada kekuatan internal rakyat Indonesia.

"Orang mau bilang apa, Indonesia kuat. Percaya pada kekuatan kita, percaya kepada rakyat kita," ujar Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Meskipun pemerintah optimis, gejolak ini dinilai mencerminkan kerentanan struktural pasar modal domestik yang masih memiliki ketergantungan tinggi pada arus modal global.

"Pelajaran terbesar dari Mei 2026 adalah problem pasar modal Indonesia bukan sekadar volatilitas, tetapi struktur ketergantungan. Selama market depth masih dangkal, investor domestik lemah, free float rendah, serta governance belum kuat, maka MSCI, foreign flow, dan risk sentiment global akan terus memiliki kekuatan besar dalam menentukan arah pasar Indonesia," ujar Kusfiardi, Analis Ekonomi Politik Pasar Saham sekaligus Co-Founder FINE Institute.

Kusfiardi memaparkan bahwa perubahan bobot pada indeks global memegang peran riil yang besar terhadap keputusan realokasi dana pasif internasional di dalam negeri.

"Secara formal MSCI bukan regulator Indonesia. Namun secara riil, MSCI memiliki pengaruh besar terhadap alokasi modal internasional, perilaku passive funds global, dan persepsi investability Indonesia. Kasus Mei 2026 menunjukkan bahwa stabilitas pasar domestik masih sangat dipengaruhi oleh structural power of global finance melalui indeks internasional, dana pasif global, dan mekanisme external market discipline, meskipun lembaga tersebut tidak memiliki otoritas hukum formal di Indonesia," jelas Kusfiardi, Analis Ekonomi Politik Pasar Saham sekaligus Co-Founder FINE Institute.

Saat ini pelaku pasar global juga tengah menanti laporan keuangan Nvidia dan risalah rapat FOMC di AS, sementara pasar domestik mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20 Mei 2026 yang diproyeksikan mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen, meski muncul spekulasi kenaikan hingga 5 persen untuk menopang rupiah.

Artikel terkait

Rekomendasi