Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bersama nilai tukar rupiah mengalami pelemahan secara bersamaan pada pembukaan perdagangan Senin, 11 Mei 2026. Data yang dikutip dari Money menunjukkan dinamika negatif pada pasar keuangan awal pekan ini.
Nilai tukar rupiah di pasar spot terpantau terdepresiasi sebesar 34 poin atau setara 0,20 persen. Kondisi tersebut membawa mata uang garuda berada di level Rp 17.416 per dollar Amerika Serikat (AS) pada pukul 10.51 WIB.
Selaras dengan rupiah, IHSG bergerak turun 60,746 poin atau menyusut 0,87 persen ke posisi 6.908,649. Indeks tercatat sempat menyentuh area terendah di level 6.846,632 meskipun sempat dibuka pada angka 6.959,943.
Tekanan pada indeks terjadi seiring dengan dominasi saham yang bergerak di zona merah. Sebanyak 467 saham mengalami penurunan, sementara hanya 204 saham yang menguat dan 134 saham lainnya berada di posisi stagnan.
Volume transaksi perdagangan mencapai 18,780 miliar saham dengan frekuensi transaksi menembus 1,34 juta kali. Nilai transaksi atau turnover pada sesi pagi ini terpantau menyentuh angka Rp 8,562 triliun.
Kenaikan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah dinilai menjadi beban berat bagi gerak IHSG. Hal ini memicu kekhawatiran rupiah berpotensi menembus level Rp 18.000 per dollar AS dalam waktu dekat.
Sebelumnya, IHSG sudah mengalami tekanan tajam pada penutupan perdagangan Jumat, 8 Mei 2026. Saat itu, indeks ditutup melemah signifikan hingga 2,86 persen dan parkir di level 6.969,40.
Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, menjelaskan bahwa pelemahan ini dipicu oleh memanasnya situasi antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz.
Koreksi ini berdampak pada terhapusnya sebagian besar penguatan indeks yang terjadi sebelumnya. Pasar saat ini kembali dibayangi kekhawatiran terkait hambatan distribusi minyak dunia serta lonjakan inflasi global.
"Koreksi ini sekaligus menghapus sebagian besar penguatan sebelumnya setelah pasar kembali dihantui kekhawatiran terganggunya distribusi minyak dunia, lonjakan inflasi global, hingga potensi sikap agresif bank sentral Amerika Serikat," ujar Hendra.
Sektor basic industry, pertambangan, dan keuangan menjadi penekan terbesar pada perdagangan kali ini. Di sisi lain, sektor kesehatan tampil sebagai penopang melalui saham defensif seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), dan PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA).
Pelemahan rupiah hingga ke area Rp 17.382 per dollar AS memperburuk sentimen pasar. Fenomena ini mencerminkan tingginya tekanan capital outflow atau aliran modal keluar dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
Pada perdagangan Jumat lalu, investor asing mencatatkan jual bersih atau net sell mencapai Rp 485 miliar. Angka ini menandakan kecenderungan investor global untuk mengurangi kepemilikan aset berisiko di tengah ketidakpastian.
Pasar global kini sangat sensitif terhadap perkembangan konflik di Selat Hormuz karena statusnya sebagai jalur vital distribusi minyak. Harga minyak Brent yang bertahan di atas 100 dollar AS per barel meningkatkan kekhawatiran pada tekanan fiskal nasional.
Hendra menyebutkan bahwa kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kuartal I-2026 sebenarnya memiliki kerentanan struktural. Pemerintah tercatat telah menggunakan sekitar 34,8 persen target defisit tahunan dalam tiga bulan pertama.
"Pemerintah sudah menggunakan sekitar 34,8 persen target defisit tahunan hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini akibat lonjakan belanja konsumsi seperti THR dan program Makan Bergizi Gratis," paparnya.
Realisasi penerimaan negara yang masih tertinggal membuat ruang fiskal untuk sisa tahun 2026 semakin menyempit. Subsidi energi berisiko membengkak jika harga minyak terus tinggi, yang dapat mendorong defisit APBN melewati batas 3 persen terhadap PDB.
Bank Indonesia telah berupaya menjaga stabilitas nilai tukar melalui penggunaan cadangan devisa. Namun, sepanjang tahun berjalan, rupiah tetap mengalami pelemahan lebih dari 3,5 persen akibat tantangan klasik pasar negara berkembang.
Pelemahan nilai tukar ini berisiko menaikkan beban utang berbasis dollar AS dan biaya impor bahan baku industri. Selain itu, terdapat potensi tekanan pada daya beli masyarakat melalui imported inflation.
IHSG juga tertekan oleh anjloknya saham komoditas menyusul rencana revisi tarif royalti sektor mineral dan batu bara. Investor mengkhawatirkan kebijakan windfall profit ini akan memangkas margin keuntungan emiten tambang secara signifikan.
Aksi ambil untung besar-besaran terjadi pada saham nikel dan mineral seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Hal ini juga berdampak pada PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Pemerintah berencana menaikkan tarif royalti maksimal hingga 19 persen untuk komoditas nikel. Pada sektor timah, kenaikan tarif bahkan melonjak menjadi 20 persen, sementara tarif dasar emas naik dua kali lipat menjadi 14 persen.
Sentimen negatif tersebut merembet ke sektor industri dasar yang sudah terbebani kenaikan biaya energi. Saham seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), hingga PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) mengalami koreksi dalam.
Kondisi ini diperparah dengan penurunan indeks waktu pengiriman pemasok yang mengindikasikan gangguan rantai pasok. Sektor manufaktur kini berada dalam posisi sensitif terhadap kombinasi pelemahan rupiah dan pengetatan fiskal pemerintah.