IHSG dan Rupiah Melemah Signifikan Akibat Tekanan Global

IHSG dan Rupiah Melemah Signifikan Akibat Tekanan Global

Pasar keuangan domestik mengalami pelemahan serentak pada Senin (18/5) pagi setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah mencatat koreksi signifikan, seperti dilansir dari Detik Finance.

Data perdagangan menunjukkan IHSG merosot 3,62 persen ke level 6.478,61, setelah sempat jatuh di atas 4 persen ke posisi 6.398,78. Sementara itu, mata uang dolar Amerika Serikat (AS) menguat 0,45 persen terhadap rupiah ke level Rp 17.677, mengakumulasikan penguatan 5,97 persen sepanjang tahun 2026.

Koreksi tajam pada pasar saham dipicu oleh pengumuman MSCI yang mengeluarkan 18 saham Indonesia, rencana FTSE Russell menindak saham kategori high shareholding concentration (HSC), serta pelemahan mayoritas bursa Asia. Penurunan ini menyebabkan 682 saham berguguran pada penutupan sesi I, dengan hanya 84 saham menguat dan 52 saham bergerak stagnan.

Faktor lain yang memberatkan indeks saham adalah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang mengerek harga minyak mentah dunia ke atas US$ 100 per barel, di samping tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana memaparkan situasi pasar modal domestik yang tertekan oleh kombinasi berbagai sentimen tersebut.

"Tidak hanya MSCI dan FTSE saja yang mempengaruhi IHSG hari ini, namun dari sisi pasar global dan regional Asia juga turut menekan pergerakan indeks," ungkap Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana.

Kondisi serupa terjadi pada pasar valuta asing di mana rupiah melemah akibat aksi jual massal oleh investor global yang beralih ke aset aman sejak akhir pekan lalu.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong menjelaskan bahwa penguatan dolar AS ini terjadi beriringan dengan aksi jual bersih di seluruh instrumen investasi termasuk obligasi, saham, hingga aset kripto.

"Rupiah kembali melemah merespon sentimen risk off global pada hari Jumat, dolar AS menguat cukup besar di tengah sell off semua asset termasuk obligasi, saham, crypto," ungkap Lukman.

Pelaku pasar juga merespons negatif hasil pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump yang tidak membuahkan hasil konkret bagi konflik di Timur Tengah.

"Kekecewaan investor pada hasil pertemuan Xi dan Trump yg tidak banyak membahas atau memberikan solusi terhadap perang AS-Iran. Hal ini juga membuat harga minyak mentah dunia kembali naik," pungkasnya.

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan nilai tukar mata uang dolar AS terhadap rupiah diperkirakan fluktuatif berada pada kisaran Rp 17.627 hingga Rp 17.682 sepanjang hari ini.

Artikel terkait

Rekomendasi