IHSG dan Rupiah Menguat Tajam Imbas Optimisme Perdamaian Global

IHSG dan Rupiah Menguat Tajam Imbas Optimisme Perdamaian Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melonjak 0,96 persen ke posisi 7.160,79 pada perdagangan Kamis, 7 Mei 2026, menyusul penguatan bursa global dan meredanya tensi geopolitik Timur Tengah. Sentimen positif ini didorong oleh laporan kemajuan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang turut memicu anjloknya harga minyak mentah dunia.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG sempat menyentuh level 7.092 pada penutupan Rabu (6/5/2026) dengan nilai transaksi mencapai Rp17,71 triliun sebelum melanjutkan penguatan pagi ini. Pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I-2026 yang tercatat sebesar 5,61 persen secara tahunan turut memperkuat kepercayaan investor di pasar modal domestik.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga terapresiasi 0,17 persen ke level Rp17.380/US$ pada penutupan perdagangan Rabu, memutus tren pelemahan lima hari beruntun. Bank Indonesia mengidentifikasi kondisi rupiah saat ini masih berada di bawah nilai fundamentalnya meskipun data makroekonomi dalam negeri tetap solid.

Gubernur Bank Indonesia memberikan penjelasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi volatilitas mata uang Garuda di tengah dinamika pasar global belakangan ini.

"Sebabnya ada dua yaitu faktor global, dan kemudian pada faktor musiman," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI.

Perry menegaskan bahwa ketahanan ekonomi domestik, yang didukung oleh inflasi rendah dan cadangan devisa yang kuat, akan menjadi dasar stabilitas nilai tukar ke depan. Sementara itu, gejolak di pasar internasional masih dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas energi dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Dari kancah internasional, Presiden Amerika Serikat memberikan pernyataan melalui media sosial terkait perkembangan negosiasi dengan pihak Iran mengenai moratorium pengayaan nuklir.

"Jika mereka tidak setuju, pemboman akan dimulai, dan sayangnya akan berada pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya," tulis Donald Trump, Presiden AS.

Pernyataan tersebut sempat membuat pelaku pasar berhati-hati setelah muncul optimisme awal terkait penghentian konflik. Namun, langkah Trump yang menangguhkan sementara rencana pengawalan kapal di Selat Hormuz dianggap sebagai sinyal kemajuan menuju kesepakatan final.

Kondisi pasar global yang mulai stabil turut mendapat tanggapan dari pelaku industri investasi mengenai potensi pemulihan ekonomi di kawasan terdampak konflik.

"Jika kita benar-benar mencapai titik di mana konflik mulai mereda atau bahkan berhenti sepenuhnya, dan kita melihat Selat Hormuz dibuka kembali, ini akan memungkinkan beberapa wilayah yang paling sensitif secara ekonomi dan paling terdampak, seperti Asia Tenggara dan Eropa, berpotensi menghindari kesulitan ekonomi mereka sendiri," kata Bill Northey, Direktur Investasi di U.S. Bank Asset Management Group.

Northey memproyeksikan bahwa berakhirnya ketegangan tersebut akan membuka peluang terjadinya rebound cepat di berbagai bursa saham dunia. Saat ini, harga minyak jenis Brent telah turun ke level 101,27 dolar AS per barel seiring berkurangnya eksposur risiko dari para trader.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan reli menuju level 7.150 hingga 7.200 pada perdagangan hari ini. Optimisme pasar juga didukung oleh rencana pemerintah menerbitkan Panda Bonds dan revisi aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) untuk menjaga ketersediaan valas di dalam negeri.

Artikel terkait

Rekomendasi