Pasar modal Indonesia mengalami tekanan pada penutupan pekan ini setelah Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG gagal mempertahankan posisinya di zona hijau. Pelemahan ini diiringi oleh aksi jual massal yang dilakukan oleh investor asing sepanjang tahun berjalan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia yang dikutip dari Suara pada Sabtu (30/5/2026), indeks saham domestik merosot sebesar 0,56% dalam kurun waktu sepekan. Pergerakan tersebut membawa IHSG ambruk ke level 6.127,381 dari posisi pekan sebelumnya yang berada di 6.162,045.
Penurunan indeks tersebut berjalan selaras dengan menyusutnya minat aktivitas transaksi di lantai bursa. Frekuensi transaksi harian rata-rata mengalami penurunan signifikan sebesar 10,87% menjadi 2,11 juta kali transaksi, dari yang sebelumnya mencapai 2,37 juta kali.
Kondisi kurang menggembirakan juga terlihat pada rata-rata volume transaksi harian yang terkontraksi tajam sebesar 15,60%. Angka tersebut menyusut menjadi 30,95 miIiar lembar saham dibandingkan catatan pekan lalu sebesar 36,67 miliar lembar.
Tekanan terhadap pasar domestik dipertegas oleh derasnya aliran modal asing yang keluar dari bursa. Pada hari terakhir perdagangan saja, investor asing membukukan nilai jual bersih atau net sell yang fantastis mencapai Rp8,519 triliun.
Secara akumulatif sepanjang tahun 2026, total dana investor asing yang keluar dari Bursa Efek Indonesia telah menembus angka Rp53,971 triliun. Angka ini mencerminkan tingginya tekanan jual yang membayangi stabilitas pasar dalam beberapa waktu terakhir.
Di sisi lain, rata-rata nilai transaksi harian sebenarnya melonjak 30,37% menjadi Rp28,38 triliun dan kapitalisasi pasar tumbuh tipis 0,88% ke level Rp10.729 triliun. Kendati demikian, para analis menilai kenaikan nilai transaksi ini lebih merefleksikan tingginya tekanan jual serta kepanikan yang terjadi di pasar.