Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan tajam sebesar 29,14% secara year to date hingga menyentuh kisaran level 5.594 pada hari Minggu (7/6/2026). Penurunan ini dipicu oleh besarnya tekanan jual pelaku pasar asing di tengah era suku bunga tinggi, seperti dilansir dari Investasi.
Koreksi mendalam ini membuat posisi IHSG kini berjarak 36,04% dari rekor tertinggi sepanjang masa yang pernah disentuh di level 9.174,47 pada 19 Januari 2026 lalu. Berdasarkan catatan data pasar modal, aksi jual bersih investor global telah mencapai angka Rp 61,3 triliun sepanjang tahun berjalan, dengan Rp 13,78 triliun di antaranya mengalir keluar hanya dalam kurun waktu sepekan terakhir.
Kondisi pasar saham domestik saat ini dinilai berada dalam situasi yang penuh dengan tantangan berat akibat ketidakpastian tersebut.
“Pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih berpotensi fluktuatif dengan kecenderungan berada dalam fase konsolidasi,” ungkap Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor.
Pencarian keseimbangan baru bagi pasar saham domestik dinilai belum sepenuhnya selesai karena masifnya aliran modal keluar yang terjadi.
“Potensi rebound tetap ada apabila muncul sentimen positif seperti stabilisasi rupiah, meredanya tekanan global, atau kebijakan yang mampu meningkatkan kepercayaan investor,” jelas Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor.
Kebijakan pengetatan moneter dunia menjadi salah satu batu sandungan utama yang menggerus daya tarik aset ekuitas di dalam negeri.
“Suku bunga tinggi membuat instrumen seperti obligasi dan pendapatan tetap menjadi lebih menarik, sehingga daya tarik saham berkurang,” kata Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor.
Tingginya beban biaya pinjaman tersebut pada akhirnya ikut memberikan tekanan pada rencana ekspansi serta pertumbuhan laba bersih emiten.
“Arus dana asing akan sangat ditentukan oleh kebijakan suku bunga The Fed dan persepsi terhadap stabilitas ekonomi Indonesia,” imbuh Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor.
Para pelaku pasar disarankan untuk tetap memegang teguh kedisiplinan dan fokus pada emiten dengan fundamental kuat serta kondisi utang terkendali.
“Bagi investor jangka panjang, fase koreksi yang dalam justru bisa dimanfaatkan untuk akumulasi saham berkualitas dengan valuasi yang lebih menarik,” tegas Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor.
Sektor perbankan besar, telekomunikasi, konsumer barang pokok, serta emiten berorientasi ekspor dinilai memiliki prospek bertahan yang lebih baik. Fenomena arus keluar modal asing ini juga mencerminkan terjadinya penurunan tingkat kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.
“Ketika kepercayaan investor menurun, dampaknya tidak hanya pada IHSG, tetapi juga pada rupiah and arus modal keluar,” jelas Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor.
Stabilitas kebijakan dan penguatan fundamental ekonomi nasional menjadi kunci penting untuk memulihkan kembali kepercayaan pelaku pasar global ke depan.