Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan hingga menyentuh level 6.599 pada Senin (18/5/2026) akibat terjadinya fase krisis kepercayaan investor yang cukup serius di pasar modal Indonesia.
Kondisi kejatuhan indeks tersebut dipicu oleh kombinasi tekanan faktor domestik seperti pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.600 per dolar AS dan faktor eksternal berupa ketegangan geopolitik Timur Tengah, seperti dilansir dari Investasi.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai penurunan ini bukan lagi sekadar koreksi normal yang biasa terjadi di pasar saham.
“Kejatuhan IHSG hingga ke level 6.599 bukan lagi sekadar koreksi biasa, melainkan cerminan bahwa pasar sedang memasuki fase krisis kepercayaan yang cukup serius,” kata Hendra.
Aksi jual bersih yang masif oleh investor asing terhadap saham-saham berkapitalisasi besar turut memperparah sentimen negatif di pasar domestik.
"Ketika rupiah melemah tajam, asing mencatatkan net sell besar, dan saham-saham big caps terus tertekan, maka pasar sedang mengirim pesan bahwa persepsi risiko terhadap Indonesia meningkat tajam," jelas Hendra.
Faktor eksternal lain yang memperburuk keadaan adalah lonjakan harga minyak dunia, penguatan mata uang dolar AS, serta kenaikan yield obligasi Amerika Serikat ke kisaran 4,6% yang memicu pelarian modal ke aset aman.
"Rebound jangka pendek memang sangat mungkin terjadi karena penurunan indeks sudah terlalu dalam, tetapi masih rawan menjadi dead cat bounce selama faktor utama tekanan belum selesai," ungkap Hendra.
Secara teknikal posisi indeks saat ini berada di area jenuh jual atau oversold, namun fluktuasi pergerakan ke depan diproyeksikan masih rentan terhadap koreksi lanjutan.
"Selama IHSG belum mampu kembali bertahan di atas area 6.800-6.900, maka risiko melanjutkan koreksi ke 6.400-6.500 masih terbuka," tambah Hendra.
Penurunan kualitas likuiditas pasar, aksi jual saham konglomerasi, dan ketidakpastian arah kebijakan ekonomi domestik menjadi perhatian utama para pelaku pasar saat ini.
"Ketika pasar panik dan valuasi turun signifikan, biasanya peluang investasi justru mulai muncul. Namun, strategi masuk harus selektif dan bertahap," kata Hendra.
Untuk perdagangan hari Selasa (19/5/2026), pergerakan indeks diperkirakan akan berada pada rentang support 6.398 dan rentang resistance 6.600.