IHSG Turun Hampir 5 Persen Dipicu Pelemahan Rupiah dan Neraca Dagang

IHSG Turun Hampir 5 Persen Dipicu Pelemahan Rupiah dan Neraca Dagang

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam mendekati 5 persen pada perdagangan sesi I, Rabu (3/6/2026). Penurunan indeks saham Indonesia tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan sentimen global, seperti dikutip dari Info.

Koreksi besar ini dipicu oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Selain itu, indikator ekonomi dalam negeri yang menunjukkan perlambatan turut memperberat langkah IHSG.

Data pasar mencatat mata uang dolar AS bergerak menguat hingga mencapai kisaran Rp17.936 per dolar AS. Lonjakan mata uang paman sam ini menjadi beban berat bagi pergerakan pasar saham domestik.

"Koreksi yang terjadi pada IHSG saat ini salah satunya dipicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," kata Herditya Wicaksana.

Head of Research MNC Sekuritas tersebut menambahkan bahwa selain mata uang, indeks dibebani penurunan saham emiten konglomerasi. Saham-saham tersebut sebelumnya sempat melonjak signifikan hingga terkena pembatasan auto reject atas (ARA) selama beberapa hari.

"Secara teknikal IHSG masih berada dalam tren penurunan atau downtrend dan hingga saat ini belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat," ujar Herditya Wicaksana.

Tekanan terhadap IHSG juga diperparah oleh penurunan surplus neraca perdagangan Indonesia periode April 2026. Situasi ini memberikan sinyal negatif bagi para pelaku pasar modal.

"Surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 tercatat sekitar US$89,1 juta," tutur Nafan Aji Gusta.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas itu menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan salah satu capaian terendah dalam enam tahun terakhir. Penurunan ini mengindikasikan adanya perlambatan kontribusi sektor eksternal terhadap ekonomi nasional.

Investor Antisipasi Penyesuaian Indeks FTSE Russell dan Faktor Global

Pelaku pasar kini bersiap menghadapi potensi volatilitas baru dari dalam negeri menjelang perombakan portofolio global. Jadwal penyesuaian saham Indonesia dalam indeks FTSE Russell akan berlangsung pada 22 Juni 2026.

Agenda penting ini diperkirakan memengaruhi arus modal masuk dan keluar pada saham-saham tertentu. Kondisi tersebut membuat investor memilih bersikap lebih hati-hati.

Sentimen eksternal dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah ikut menambah ketidakpastian pasar global. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta operasi militer Israel di Lebanon menjadi perhatian serius investor.

Di sisi lain, pasar menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau US Nonfarm Payrolls periode Mei akhir pekan ini. Data ekonomi tersebut sangat krusial karena memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.

Berbagai faktor makroekonomi ini membuat pergerakan IHSG diperkirakan masih berada di bawah tekanan tinggi. Investor disarankan tetap mencermati indikator pasar serta mempertimbangkan risiko di tengah volatilitas yang tinggi.

Artikel terkait

Rekomendasi