Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan pada Jumat (8/5) dengan mencatatkan koreksi cukup dalam. Dilansir dari Detik Finance, indeks bursa domestik ini merosot sebesar 2,86 persen dan parkir di posisi 6.969,40.
Sentimen negatif menyelimuti hampir seluruh sektor saham di lantai bursa. Sektor industri dasar (basic industry) tercatat menjadi beban terberat bagi indeks dengan penurunan signifikan yang mencapai 7,80 persen di akhir perdagangan.
Kendati demikian, sektor kesehatan tampil berbeda dengan menjadi satu-satunya yang bertahan di zona hijau. Sektor ini berhasil mencatatkan penguatan tertinggi dengan kenaikan tipis sebesar 0,70 persen di tengah pelemahan pasar secara luas.
Sejumlah saham justru menunjukkan performa gemilang di tengah tekanan indeks. Saham Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) melonjak tajam sebesar 20 persen, diikuti Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang menguat 1,02 persen, dan Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) naik 12,36 persen.
Sebaliknya, tekanan jual yang masif menghantam saham-saham berkapitalisasi besar lainnya. Barito Renewables Energy Tbk (BREN) jatuh 11,83 persen, Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terpangkas 14,94 persen, dan Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyusut 9,27 persen.
Aktivitas investor asing juga menunjukkan tren keluar dengan pembukuan jual bersih (net sell) senilai Rp485,02 miliar di pasar reguler. Namun, jika dilihat secara kumulatif di seluruh pasar, investor mancanegara masih mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp11,42 triliun.
Koreksi juga merembet ke instrumen investasi eksternal yang melacak pasar modal tanah air. Indeks ETF EIDO dilaporkan melemah 1,46 persen, sementara MSCI Indonesia mengalami penurunan yang lebih tajam sebesar 2,59 persen.
Fokus para pelaku pasar kini tertuju pada kebijakan baru pemerintah terkait rencana revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2025. Perubahan ini menyangkut penyesuaian tarif royalti untuk sejumlah komoditas mineral strategis di Indonesia.
Kementerian ESDM tengah melakukan uji publik guna membahas kenaikan royalti mineral seperti emas, perak, tembaga, timah, dan nikel. Langkah ini diambil sebagai respons atas lonjakan Harga Mineral Acuan (HMA) yang terjadi sepanjang tahun 2026.
| Komoditas | Nilai Satuan | Harga Acuan |
|---|---|---|
| Perak | per troy ons | US$79,27 |
| Timah | per ton | US$51.101 |
| Emas | per troy ons | US$4.746 |
| Tembaga | per dmt | US$12.655 |
| Nikel | per dmt | US$16.822 |
Dalam usulan terbarunya, pemerintah berencana menaikkan tarif royalti tembaga menjadi 7 persen hingga 10 persen. Sementara itu, royalti emas diusulkan meroket ke kisaran 14 persen sampai 20 persen, dan perak menjadi 6 persen hingga 8 persen.
Sektor timah juga akan mengalami penyesuaian tarif antara 5 persen hingga 12,5 persen dengan skema lapisan tarif tambahan. Kebijakan ini diprediksi akan memberikan tekanan pada margin keuntungan emiten pertambangan jika resmi diberlakukan nantinya.
Aksi Korporasi dan Status Saham Emiten
BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) resmi menyandang status High Shareholding Concentration (HSC). Status ini diberikan setelah data menunjukkan kepemilikan saham perusahaan terkonsentrasi hingga 95,82 persen pada pihak tertentu.
WBSA yang merupakan emiten pembuka perdagangan bursa tahun ini melepas 1,8 miliar saham dengan harga penawaran Rp168. Dengan status baru ini, WBSA bergabung bersama BREN dan DSSA dalam kategori saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.
Di sisi lain, Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) baru saja menyelesaikan proses peralihan pengendali. Pacific Universal Investments, yang berafiliasi dengan CVC Capital Partners, resmi mengakuisisi 51 persen saham MAPI dari Satya Mulia Gema Gemilang.
Transaksi jumbo senilai Rp11,81 triliun ini mencakup pengalihan 8,46 miliar saham di harga Rp1.395 per lembar. Pasca aksi ini, pihak pengendali baru berencana melakukan penawaran tender wajib dengan harga penawaran sebesar Rp1.550 per saham.