Ikhlasnya Said Saat Ladang Nafkah di Perlintasan Liar Ditutup KAI

Ikhlasnya Said Saat Ladang Nafkah di Perlintasan Liar Ditutup KAI

Lansia bernama Said (61) terlihat termenung di tengah deru klakson kereta yang melintas di pelintasan liar di RT 05, RW 12, Kebon Baru, Tebet, Jakarta Timur, Kamis (14/5/2026). Semangat Said menjaga pelintasan itu tak seperti biasanya, ketika tahu lahan untuk mencari nafkahnya tersebut akan ditutup permanen oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Sebab awalnya, PT KAI berencana menutup pelintasan yang berada di antara RT 01 dan 03, RW 12, di mana jaraknya hanya sekitar 50 meter dari tempat Said mencari nafkah. Namun karena banyak warga yang keberatan jika pelintasan di RT 01 dan 03 itu ditutup permanen karena dianggap lebih dibutuhkan, maka ladang pencaharian Said lah yang harus dikorbankan.

Dengan kaki telanjang berdiri di tengah rel, Said hanya mampu memandang jalur yang tiga tahun ke belakang memberinya kehidupan, mulai ditutup dengan beton bantalan rel yang dipasang vertikal oleh PT KAI.

"Kalau menurut saya sendiri sih tidak ada masalah apa-apa. Itu kan urusan negara. Kita bisa berbuat apa? Kita tidak bisa berbuat apa-apa, ikhlaskan saja. Kalau soal rezeki, Allah yang mengatur, bukan urusan kita" ujar Said, Penjaga Perlintasan.

Ia bercerita, dulu merupakan seorang pedagang ikan laut di pasar. Namun, karena usianya tak lagi muda, Said tidak lagi memiliki tenaga yang kuat untuk berdagang. Sebab itu lah, Said mulai menggantungkan hidupnya di pelintasan liar tersebut selama tiga tahun ke belakang. Namun kini, ia harus kehilangan satu-satunya pekerjaan yang menjadi tumpuhan untuk menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya.

"Saya memang tidak ada pekerjaan lain lagi. Pekerjaan saya memang di sini untuk membiayai anak sekolah, kebetulan masih ada dua. Jadi, kami sangat butuh" sambung Said, Penjaga Perlintasan.

Di usianya yang tak lagi muda, Said masih harus menanggung biaya sekolah dua buah hatinya yang duduk di bangku SMP dan SMA, sehingga masih membutuhkan banyak biaya. Bukan hanya Said, tiga orang lain penjaga pelintasan kereta liar di lokasi ini juga akan kehilangan mata pencaharian. Pasalnya, untuk menjaga pelintasan yang lebarnya kurang dari dua meter tersebut, para penjaga harus berganti-gantian.

Said mengatakan, pendapatannya sebagai penjaga pelintasan kereta liar tak seberapa, karena tidak pernah memaksa para pengendara untuk memberikannya uang. Jika dalam satu hari pelintasan itu dijaga oleh empat orang, maka penghasilan yang diterima masing-masing hanya sekitar Rp 30.000 hingga Rp 40.000. Namun, jika hanya dijaga oleh dua orang, maka Said bisa mengantongi uang sekitar Rp 80.000 per hari.

Pendapatannya yang tak seberapa itu, digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur dan biaya sekolah anaknya. Namun kini, pendapatan yang terbatas tersebut juga hilang dan membuatnya harus mencari jalan lain agar tetap bisa menghidupi keluarga. Ia percaya dengan terus berusaha pasti ada jalan lain untuk dirinya agar bisa menafkahi keluarga di rumah.

"Kalau masalah anak sekolah, lillahi ta'ala. Yang penting kita sudah berusaha dan keluar rumah mencari nafkah. Urusan rezeki Allah yang mengatur, bukan kita" kata Said, Penjaga Perlintasan.

Prioritas Keselamatan Publik

Ke depan, ia akan mencari kerja serabutan agar anak-anaknya tetap bisa mengenyam pendidikan. Meski kehilangan mata pencaharian, Said ikhlas karena penutupan pelintasan liar itu untuk menjaga keselamatan bersama. Ia berharap, dengan ditutup tak ada kasus kecelakaan yang melibatkan pengendara atau pejalan kaki dengan kereta api.

Sebab selama ini, meski menjaga palang secara manual, Said berusaha semaksimal mungkin menjaga keselamatan para pengendara dan pejalan kaki yang ingin menyebrang rel. Setiap menjaga pelintasan rel itu, pandangan matanya tak boleh lengah melihat kanan dan kiri agar mengetahui datangnya kereta. Berkat kerja kerasnya itu, selama bertahun-tahun warga yang melintas di lokasi tersebut aman dan terhindar dari kecelakaan.

"Alhamdulillah, selama saya tiga tahun di sini tidak pernah ada masalah apa-apa" tutup Said, Penjaga Perlintasan.

Artikel terkait

Rekomendasi