Ketergantungan Impor Bahan Baku Kosmetik Nasional Masih Capai 80 Persen

Ketergantungan Impor Bahan Baku Kosmetik Nasional Masih Capai 80 Persen

Ketergantungan terhadap bahan baku impor masih menjadi tantangan utama bagi industri kosmetik nasional di tengah pesatnya pertumbuhan merek lokal pada Rabu (6/5/2026). Dilansir dari Lifestyle, sekitar 80 persen komponen produksi kosmetik di dalam negeri saat ini masih harus didatangkan dari luar negeri.

Ketua Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika Indonesia (PERKOSMI), Sancoyo Antarikso, menjelaskan bahwa tingginya angka impor tersebut dipicu oleh rumitnya formulasi produk. Ketidaktersediaan komponen dalam jumlah dan jenis yang memadai di pasar domestik membuat produksi lokal belum kompetitif secara komersial.

"Untuk produk kosmetik, satu SKU itu bahan bakunya bisa sampai 30 sampai 40 jenis. Karena banyak dan tidak semuanya tersedia di Indonesia, secara skala ekonomis sebagian masih belum commercially viable untuk diproduksi di sini," ujarnya Sancoyo Antarikso, Ketua PERKOSMI.

Sancoyo menegaskan bahwa pihak industri tetap memiliki keinginan untuk menyerap bahan baku lokal. Namun, terdapat empat kriteria utama yang harus dipenuhi oleh pemasok domestik agar produk mereka dapat diterima oleh produsen kosmetik, yakni kualitas, inovasi, layanan, serta harga.

"Kalau bahan baku itu kualitasnya bagus, inovatif, layanannya baik, dan harganya kompetitif, tentu industri akan memakai. Tapi jangan sampai dipaksa diproduksi di Indonesia kalau akhirnya harganya justru tidak bersaing," katanya Sancoyo Antarikso, Ketua PERKOSMI.

Upaya pembinaan kepada produsen dan edukasi konsumen juga terus dilakukan guna menjaga mutu produk di pasar. Langkah ini diambil untuk memastikan proses produksi sesuai dengan standar Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB) guna meminimalkan temuan bahan berbahaya.

"Kami terus melakukan komunikasi, pelatihan, dan coaching clinic kepada produsen. Mulai dari pelatihan CPKB sampai pengisian Product Information File," tegas Sancoyo Antarikso, Ketua PERKOSMI.

Sementara itu, Corporate Director of Creative and Innovation Martha Tilaar Group, Kilala Tilaar, menyoroti kerentanan industri akibat tingginya impor. Ia menilai pembenahan rantai pasok dari hulu ke hilir merupakan keharusan agar industri nasional tidak terpengaruh gejolak ekonomi global.

"Sekitar 85 persen bahan baku kosmetik kita masih impor. Bukan hanya brand-nya yang harus tumbuh, tetapi rantai pasoknya juga harus dibenahi dengan benar," kata Kilala Tilaar, Corporate Director of Creative and Innovation Martha Tilaar Group.

Kilala juga menyesalkan fenomena ekspor bahan mentah Indonesia yang kemudian diolah di luar negeri sebelum dibeli kembali oleh industri lokal. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan hayati berupa tanaman obat dan aromatik yang sangat besar untuk dikembangkan secara mandiri.

"Indonesia punya ribuan tanaman obat, aromatik, dan kosmetik. Banyak yang justru keluar sebagai bahan mentah, diproses di luar negeri, lalu kembali lagi ke kita dengan harga jauh lebih mahal," ujarnya Kilala Tilaar, Corporate Director of Creative and Innovation Martha Tilaar Group.

Artikel terkait

Rekomendasi